BAYAN MAGHRIB MAULANA SHAMIM DI MARKAZ YOGYAKARTA, MASJID JAMI’ AL ITTIHAD TANGGAL: 10 APRIL 2000


            Allah SWT meletakkan dua nidhom atau dua aturan dalam kehidupan ini. Yang pertama adalah nidhom ghoibi dan yang kedua nidhom dhohiri. Yang dimaksud dengan nidhom dhohiri, adalah sesuatu yang dapat dilihat oleh mata kita, seperti pertanian, perikanan, perkantoran, pembangunan jalan dan sebagainya, yang ada saat ini. Apa yang nampak di hadapan mata kita ini adalah nidhom yang dhohir. Sedangkan nidhom yang ghoibi yaitu yang diatur oleh Allah SWT melalui para malaikat. Sebagai perumpaan, kita lihat bayang-bayang atau naungan ketika awan sedang berjalan. Naungan tersebut adalah bayangan daripada dhohiri, sedangkan yang ghoibi adalah awan itu sendiri. Jadi adanya bayangan tersebut, karena adanya awan. Contoh yang kedua, dapat pula dimisalkan tubuh kita ini, yang nampak adalah dhohiri sedangkan yang menggerakkan terletak dalam tubuh kita yaitu ruh kita disebut ghoibi. Dengan demikian, alam ini semua baik peredaran matahari, bulan, bintang-bintang semua yang ada ini adalah dhohiri saja, dan itu semua diatur oleh nidhom ghoibi dari Allah SWT. Nidhom yang dhohiri ini pada dasarnya ikut kepada nidhom ghoibi, yang tidak terlihat oleh kedua mata kita.

Manusia ini akan berjaya, akan berbahagia,  apabila dia senantiasa mengikuti nidhom ghoibi yang diatur oleh Allah SWT. Dia atur segala macam kehidupan ini, menurut apa yang diatur oleh Allah SWT. Dia tidak terkesan dengan nidhom yang dhohiri. Maka kejayaan dan kebahagian akan diberikan kepada manusia, kalau dia paham akan nidhom dhohiri tersebut.

Yang namanya iman, adalah iman kepada nidhom yang ghoibi. Maka kita katakan dalam lafadz iman kita  Amantubillahi wa malaaikatihi, yaitu iman kepada Allah dan iman kepada para malaikat. Inilah yang dimaksud dengan iman kepada yang ghoib. Allah SWT tidak terlihat oleh kita, begitu pula para malaikat. Semua nidhom yang dhohiri ini diatur oleh nidhom yang ghoibi, dan yang berkuasa atau dominan adalah nidhom ghoibi, bukan nidhom yang dhohiri.

Fir’aun, dia berusaha mengatur kerajaannya dengan nidhom dhohiri. Dia mempertahankan kerajaannya, dengan nidhom dhohiri. Pada suatu hari dia bermimpi, bahwasanya akan lahir seorang bayi dari Bani Israil yang akan menggoncangkan dan menghancurkan kerajaannya. Kemudian ia berusaha menghalangi kelahiran bayi yang akan menghancurkan kerajaannya tadi, dengan membuat nidhom-nidhom dhohiri. Yaitu, dia perintahkan semua orang di kerajaannya dan segenap tentaranya, untuk membunuh setiap bayi Bani Israel yang lahir, sehingga sekian ribu bayi telah dibunuh. Kemudian para menterinya mengatakan kepada Fir’aun: “Kalau semua bayi-bayi ini dibunuh, maka siapa yang akan kerja di kerajaan kita ?. Yang menyapu, yang memasak, semua adalah kuli-kuli dari Bani Israil. Kalau semua ini dibunuh, siapa yang akan kerja di kerajaan kita nanti ?.” Mendengar nasehat ini, kemudian Fir’aun merobah peraturan: “Kalau begitu, setahun kita bunuh dan setahun kita biarkan hidup”.

Allah SWT ingin melihatkan nidhom ghoibi-Nya. Ingin menantang nidhom dhohiri yang dibuat oleh Fir’aun. Maka Allah SWT wujudkan, Harun AS lahir pada tahun yang tidak ada pembunuhan. Beliau lahir dengan selamat. Dan Allah SWT ingin nampakkan kekuasaan-Nya, dilahirkan Musa AS di tahun yang ada pembunuhan. Lahirlah Musa AS, maka ibunyapun ketakutan: “Bagaimana anak saya ini akan dibunuh oleh Fir’aun di tahun tersebut.” Tapi Allah SWT, katakan kepada ibunya Musa AS: “Jangan takut. Letakkan anakmu dalam satu kotak, dan hanyutkan dalam sungai, nanti Kami akan pelihara dengan cara Kami sendiri, dan nanti Kami akan mengembalikannya kepadamu.” Allah SWT menyenangkan ibunya Musa AS, agar jangan khawatir akan kematian anaknya di tangan Fir’aun. Tuhan adalah Tuhan. Jadi Tuhan yang menciptakan, maka Tuhan pulallah yang memelihara. Dia yang menciptakan, maka Dia pulalah yang menjaga hamba-Nya tersebut. Dengan kekuatannya sendiri, Allah akan jaga. Sedangkan manusia, tanpa bantuan dan kekuatan dari Allah, tidak mampu berbuat apa-apa. Tapi, Allah tanpa bantuan dari makhluk-Nya mampu berbuat segala-galanya.

Pada suatu saat Fir’aun bersama isterinya, memandang ke arah sungai. Istana Fir’aun memang di buat di atas sungai. Mereka melihat pemandangan seperti biasa, benda-benda yang mengapung di atas sungai termasuk kotak-kotak. Tetapi, pada hari itu Allah ingin menampakkan nidhom ghoibi kepada Fir’aun dan juga kepada seluruh manusia. Isteri Fir’aun memandang kotak terapung di atas sungai, dengan pemandangan yang lain dibandingkan dengan hari-hari biasa. Allah arahkan pandangan mereka ke kotak tersebut. Kotak itu semakin mendekat dan mendekat ke istana Fir’aun. Kemudian kotak tersebut diambil, dan setelah dibuka, ternyata isinya seorang bayi yang sangat cantik sekali. Allah SWT kemudian tanamkan perasaan cinta isteri Fir’aun kepada bayi tersebut, dan Fir’aun marah. Dia pikir bahwa bayi inilah yang akan menghancurkan kerajaannya, maka ia ingin membunuhnya.

Tetapi nidhom ghoibi dari Allah SWT bagaimana ?. Allah menantang Fir’aun. Ribuan bayi telah dibunuh dimana-mana, dan sekarang di depannya dihadapkan seorang bayi. Mampukah sekarang dia membunuh bayi tersebut ?. Bagaimana nidhom ghoibi Allah wujudkan ?. Yaitu dengan cara menanamkan perasaan cinta isteri Fir’aun kepada bayi itu. Rasa cinta, inilah tentara daripada Allah. Ketika Fir’an akan membunuh, maka isteri Fir’aun mengatakan: “Jangan kau bunuh dia”. Akhirnya Fir’aun tidak dapat berbuat apa-apa. Dan inilah ciri khas kehidupan di dunia, bahwa orang-orang besar selalu tunduk kepada isterinya. Di tengah rakyatnya ia berbicara yang hebat-hebat : “Ana robbukumul a’la, saya adalah tuhanmu yang lebih tinggi”. Bicara seenaknya, perintah seenaknya, tidak mau mendengarkan suara siapapun juga. Tetapi, setelah di rumah ia akan tunduk kepada isterinya. Inilah orang dunia. Kemudian Allah ingin tundukkan lagi Fir’aun, dengan cara bagaimana ?. Fir’aun berkata: “Saya adalah robb-mu yang memelihara segala-galanya”. Pada saat itulah isteri Fir’aun semakin cinta dan sayang kepada Musa AS, dan menangis terus menangis, meminta kepada Fir’aun agar mencarikan wanita yang dapat menyusui bayi tersebut. Padahal Fir’aun sudah mengatakan dirinya sebagai robb (tuhan) tetapi, dia tidak mampu memberikan susu kepada bayi, sehingga dia cari wanita-wanita yang dapat menyusukannya. Dan Allah  SWT perlihatkan kekuasaan-Nya, dengan kenyataan bahwa Musa menutup mulutnya dan tidak mau menyusu kepada semua wanita yang  manapun juga. Fir’aun lemah, dia tidak dapat menunjukkan bahwa dirinya robb yang dapat memberikan susu kepada seorang bayi, atau memerintahkan para wanita untuk memberikan susunya masing-masing. Musa tetap saja tidak mau menyusu. Akhirnya kakak atau saudari Musa AS yang selalu mengikuti perjalanan kotak tersebut, datang kepada Fir’aun, dan dia katakan : “Saya mempunyai seorang ibu, dan dia pandai menyusukan. Kalau sekiranya engkau mau, maka akan saya panggilkan ibu saya.” Manusia lemah, tidak dapat berbuat apa-apa tanpa ijin dari Allah SWT. Maka hadirlah ibu Musa AS ke istana Fir’aun untuk menyusui Musa AS anaknya sendiri.

Begitulah, bahwa orang-orang dunia ini selalu tunduk kepada isterinya. Tetapi, orang yang beragama, Allah tundukkan isterinya untuk dia. Jadi isteri akan memberikan kenikmatan dalam kehidupan tersebut. Memang Nabi SAW telah katakan : “Dunia ini adalah perhiasan, keindahan dan sebaik-baiknya keindahan adalah isteri yang sholeha”. Isteri yang beragama dan ta’at kepada suaminya, maka itulah yang disebut agama, dan inilah yang memberikan kenikmatan dalam kehidupan. Tetapi kalau isteri tidak ta’at kepada suaminya, maka itu namanya bukan isteri yang baik. Maka isteri yang tidak baik, yang tidak ta’at kepada suaminya, maka segala amalannya puasa, zakat, sholat, tidak akan diterima oleh Allah SWT. Maka yang paling utama dalam melaksanakan amalan bagi seorang isteri, adalah ketaatannya kepada suami. Jadi, meskipun dia sudah beribadah dan beribadah, selama dia tidak ta’at kepada suaminya, maka amalannya tersebut akan berguguran dan jatuh.

Menghadapi kenyataan tersebut Fir’aun kebingungan. Menteri-menteripun kebingungan, bagaimana anak bayi ini tidak mau menyusu dan menangis terus menerus. Maka sekiranya anak ini mati, tidak ada makanan,  Fir’aun akan malu. Bagaimana negara Mesir yang begitu besar pada waktu itu, tidak mampu menjaga seorang anak bayi saja. Inilah yang menyebabkan kebingungan Fir’aun. Namun setelah datang ibu Musa AS, dan ternyata Musa AS dengan cepatnya menyusu kepada ibunya sendiri, Fir’aun tidak tahu bahwa wanita itu adalah ibu bayi tersebut. Pada saat Musa AS mulai menyusu, maka Fir’aun mulai gembira, demikian pula para menteri menjadi tenang, karena tidak dipermalukan dengan kematian bayi tadi. Kemudian saking begitu senangnya Fir’aun, maka dikatakan kepada ibu Musa AS : “Segala keperluan kamu akan menjadi tanggungjawab saya. Keperluan kamu dan keluarga kamu akan menjadi tanggungjawab saya.” Jadi bagaimana Musa AS dipelihara ?. Bukan Fir’aun atau ibunya yang memelihara. Tetapi, Allah SWT yang memeliharanya. Allah gunakan Fir’aun yang ingin  membunuh bayi tadi, untuk memelihara Musa dan ibunya. Berkat keberkahan Musa AS, Allah cukupkan segala keperluan ibu dan keluarganya yang lain. Inilah kekuasaan Allah SWT. Allah ingin memperlihatkan kelemahan dari manusia, dan di sisi lain Allah ingin tunjukkan kekuatan-Nya.

Yang namanya iman, tercakup dalam tiga hal. Kalau ketiga hal ini tertanam dalam diri kita, maka baru itulah yang disebut kita beriman. Pertama, kita harus yakin terhadap sifat Rububiyah Allah SWT. Kedua, yakin terhadap sifat uluhiyah Allah SWT dan ketiga yakin terhadap asma Allah SWT.

Begitu pula Namrud, diberitakan oleh para ahli nujum bahwa pada suatu malam akan mengalir mani dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan dan akan lahir seorang anak yang dapat menggoncangkan kerajaannya. Maka Namrud setelah tahu tentang pertanda tersebut, ia kumpulkan semua rakyatnya pada malam yang telah ditentukan oleh para ahli nujumnya tersebut. Karena malam itu, akan terjadi perpindahan seperma seorang laki-laki ke ovum seorang wanita, maka dipisahkannya seluruh wanita jauh-jauh dengan laki-laki. Dan dia umumkan, tidak boleh satupun laki-laki dan perempuan, suami dan isteri, yang bertemu pada malam hari itu. Inilah nidhom dhohiri yang dibuat oleh Namrud, untuk menghalang-halangi kelahiran seorang bayi yang akan menghancurkan kerajaannya.

Namrud pada malam itu, memerintahkan seorang menterinya untuk menjaga para laki-laki dan isteri menteri tersebut untuk menjaga para wanita. Kemudian Namrud duduk di tengah-tengah antara kelompok laki-laki dan kelompok perempuan tersebut dengan hebatnya, dengan harapan dia dapat mamantau langsung bahwa tidak akan terjadi pergaulan antara suami dan isteri pada malam tersebut. Dia jaga, dia jaga terus, dan akhirnya dia mengantuk, kemudian tertidur lelap. Menteri yang menjaga laki-laki tersebut, berusaha dengan keras agar tidak ada satupun laki-laki yang masuk ke tempat perempuan, demikian pula di seberang yang lain, isteri menteri yang bertugas menjaga kaum wanita, berjaga dengan keras agar tidak ada seorang wanitapun menyeberang ke tempat laki-laki. Dia perhatikan terus menerus, dan malampun semakin larut, yang mengakibatkan semua wanita tertidur. Demikian pula di sebelah yang lain, ternyata semua laki-laki juga tertidur. Melihat kaum wanita sudah tertidur semua, maka isteri menteri tersebut berusaha mendekat ke tempat kaum laki-laki, berjaga-jaga agar jangan sampai ada satupun laki-laki yang mendekati kelompok wanita. Dia berjalan dan berjalan terus mendekati perbatasan kaum laki-laki. Demikian pula menteri tersebut, melihat kaum laki-laki sudah tertidur semua, dia mendekat ke perbatasan tempat wanita, dengan harapan tidak ada satupun wanita yang akan menyeberang ke tempat laki-laki dan membangunkan suaminya. Dia berjalan dan berjalan terus, sehingga sampailah dia di tempat perbatasan kaum wanita. Di situlah kemudian kedua makhluk Allah, suami isteri yang bertugas menjadi penjaga tersebut saling bertemu, saling mendekat, kemudian saling berbicara dan akhirnya timbul rasa cinta dan kasih sayang, yang akhirnya ditutup dengan pergaulan suami isteri yang justru dilakukan di bawah telapak kaki Namrud sendiri. Sebenarnya, kalau malam itu menteri tersebut mengerjakan sholat atau amalan lain, maka tidak akan terjadi pergaulan dengan isterinya. Tetapi, karena dia bertugas sebagai security saja atau sebagai satpam, sementara itu isterinya juga menjalankan tugas yang sama, maka terjadilah apa yang seharusnya terjadi, dan itulah yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Pada pagi harinya, setelah program yang dibuat oleh Namrud dijalankan, maka para ahli nujumnya datang kepada Namrud. Dan dikatakannya : “Wahai sang raja, tadi malam telah terjadi perpindahan seperma seorang laki-laki ke dalam rahim isterinya”. Inilah nidhom ghoibi yang ingin Allah SWT tunjukkan. Setelah diberitahu oleh para ahli nujumnya, maka raja Namrud marah,  dan rakyatnyapun juga marah. Mereka katakan : “Mengapa sudah dikasih tahu oleh raja, masih saja menentang perintah raja dan terjadi pergaulan antara suami dan isteri, padahal sudah dilakukan penjagaan dengan ketat”. Menteri dan isteri yang saling bergaul tadi malam, juga berpura-pura marah. Maka dibuatlah peraturan yang kedua, yaitu dikatakan : “Kita catat dengan baik. Kapan bayi yang akan lahir dengan perhitungan yang tepat, sejak terjadinya pertemuan antara suami isteri tersebut, akan dibunuh semua”.

Demikianlah sifat-sifat kerajaan atau suatu negara, yang berbuat salah menterinya, yang menjadi korban adalah rakyatnya sendiri. Bagaimana aturan atau nidhom ghoibi yang dibuat oleh Allah SWT terhadap peristiwa tersebut ?. Kehamilan ibu Ibrahim AS tadi, lain daripada kehamilan wanita yang lain. Pada saat waktu melahirkan, ibu Ibrahim AS pergi ke hutan dan tidak ada satupun rakyat atau raja Namrud yang tahu, sehingga dia dapat melahirkan dengan mudah dan selamat, kemudian kembali lagi masuk ke kerajaan lagi, seolah-olah tidak ada peristiwa luar biasa yang telah terjadi. Ibrahim lahir dengan selamat, sementara itu sekian banyak bayi yang lahir bersamaan waktunya telah terbunuh. Dalam keadaan baru lahir, Ibrahim ditinggalkan begitu saja di dalam hutan, bukan ibunya yang memelihara, tetapi Allah SWT yang memeliharanya. Allah SWT yang menjaga dan memelihara bayi yang masih dalam rahim ibunya, dan Allah SWT yang memelihara setelah bayi tersebut lahir dari rahim ibunya. Allah SWT yang memelihara air mani selama 4 bulan sehingga menjadi tubuh yang sempurna, dan Allah pulalah yang meniupkan ruh dalam tubuh bayi tersebut. Pernahkan kita berfikir, kenapa baru 4 bulan ditiupkan ruh ke dalam tubuh bayi yang masih dalam kandungan ?. Kenapa tidak dikeluarkan saja langsung ?. Kenapa Allah  SWT masih simpan dalam rahim ibunya selama 5 bulan lagi ?. Pernahkan kita berfikir samacam ini ?. Kenapa setelah ditiupkan ruh, tidak langsung saja dikeluarkan dari rahim ibunya ?. Kenapa masih harus ditahan selama 5 bulan dalam kandungan ibunya ?. Pada dasarnya, Allah ingin memperlihatkan kepada manusia, untuk berfikir, bahwa Allah yang memberikan ruh, kemudian Allah yang memelihara dalam rahim ibu tersebut.

Bagaimana Allah SWT memelihara Nabi Ibrahim AS ?. Yaitu dikeluarkannya dari dua ibu jari Ibrahim, dari satu jari keluar susu dan dari satu jari lainnya keluar madu. Inilah kekuatan Allah SWT, dan perkembangan Ibrahim AS tidak seperti perkembangan bayi-bayi yang lainnya. Perkembangan bayi lain yang membutuhkan waktu satu tahun, bagi Ibrahim AS cukup dalam waktu satu bulan saja. Demikian pula perkembangan bayi yang lainnya dalam enam bulan, bagi Ibrahim AS hanya memerlukan waktu satu minggu saja. Atau satu minggu perkembangan bayi biasa, maka bagi Ibrahim AS cukup satu hari saja. Ini adalah kekuasaan Allah SWT.

Ibu Ibrahim AS, sekali-kali melihat keadaan anaknya dalam hutan, dan ternyata perkembangannya begitu cepat, sangat bagus sekali, sangat tampan sekali, sangat gagah sekali, sehingga yakinlah ibunya bahwa yang memelihara Ibrahim adalah Allah SWT. Karena cepatnya perkembangan Ibrahim, sehingga dia tumbuh menjadi anak yang besar, kemudian dia pergi ke kota. Sampai di kota orang-orangpun bingung, melihat ibu jari si anak, mengeluarkan susu dan madu. Orang yang menyangka anak ini lahir pada saat yang ditentukan oleh Namrud, mereka semakin tidak percaya. Demikian pula orang-orang yang ahli menghitung kelahiran anak, mengatakan tidak mungkin kalau dia lahir pada hari yang ditentukan oleh Namrud, kalau dilihat dari bentuk fisik anak tersebut. Mereka berkesimpulan, bahwa anak ini lahir jauh hari dari tanggal atau hari yang telah ditentukan tersebut. Inilah kekuasaan Allah SWT. Allah telah pelihara Ibrahim AS.

Itulah yang namanya iman, hendaknya kita tanamkan dalam hati kita sifat rububiyah dari Allah SWT. Allah yang memelihara bayi sejak dalam rahim ibunya, Allah  pula yang memelihara kita di padang mahsyar. Allah yang  memberikan ruh kita dalam kubur, dan selama 60-70 tahun Allah yang memberikan ruh dalam tubuh kita. Dia yang memelihara kita. Dia yang memberi makan kita. Dia yang memberikan segala-galanya kepada kita.

Keyakinan terhadap rububiyah Allah SWT harus senantiasa kita tanamkan dalam diri kita. Selama belum tertanam keimanan terhadap rububiyah Allah tadi, maka kehidupan kita masih belum lurus. Allah SWT telah berfirman: “Sesungguhnya orang yang mengatakan rabb kami adalah Allah”.  Ayat ini tidak sampai di situ saja, tetapi diteruskan dia tetap istiqomah dalam pengakuan tadi, karena untuk mengucapkan “rabb kami adalah Allah” itu mudah, tetapi untuk istiqomah ini yang dituntut oleh Allah SWT. Bagaimana dalam kehidupan di dunia ini, kita yakini bahwa rabb kita adalah Allah SWT. Oleh karena itu, selama keimanan ini belum menghunjam dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu menjawab pertanyaan di kubur. Karena dalam kubur, pertanyaan pertama yang akan diajukan adalah: “Man Rabbuka ?”. Rabb kamu siapa ?. Dan siapa yang mampu untuk menjawab ?. Yaitu orang-orang yang sudah tertanam sifat rububiyah dalam hati mereka. Maka dari itu, orang yang selama hidupnya di dunia yakin terhadap tokonya, yakin terhadap pertaniannya, yakin terhadap perdagangannya, yakin terhadap perkantorannya, maka dalam kubur dia tidak akan mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Apa yang direkam oleh kaset, itulah yang akan keluar pada saat diputarkan. Kalau yang kita rekam adalah orang membaca ayat Al Quran, maka Al Quran itulah yang akan keluar dari kaset tadi. Tetapi kalau yang direkam tadi adalah ceremah-ceramah, maka ceramah-ceramah inilah yang akan keluar. Demikian pula kalau yang direkam lagu-lagu yang tidak karuan (dan tidak ada lagu yang karuan), maka lagu-lagu itulah yang akan keluar. Oleh karena itu, kalau belum tertanam betul rububiyah Allah tersebut dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu menjawab pertanyaan kubur. Tetapi kalau itu yang sudah tertanam dan terhunjam dalam diri kita, maka itulah yang akan keluar pada saat ada pertanyaan dalam kubur nanti.

Yang namanya iman, bukan hanya sekedar ucapan saja. Ucapan hanya sekedar mendhohirkan iman. Tetapi hakekat iman, adalah terletak dalam hati manusia itu sendiri. Yang terhunjam dalam hati, itulah yang namanya iman. Kadang-kadang lisan ini juga dapat berbohong, bisa berdusta. Misalnya, kita duduk di restoran, minum kopi atau teh, makan sate atau yang lainnya. Kemudian ada teman lewat di depan restoran, terus kita panggil kita tawari makan dan minum. Ini lisan kita. Tetapi dalam hati, kalau dia mau, maka kita yang akan bayar. Lisan dia memanggil kawannya, tetapi di hati mengatakan mudah-mudahan jangan datang. Inilah yang namanya lisan, bisa berbohong. Lisan berbicara, apa yang sebenarnya tidak ada dalam hati.

Seorang hamba Allah sedang tidur pada jam 2.00 siang bersama isterinya. Dia merasa mengantuk yang sangat berat, tetapi tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Ternyata yang datang adalah adik iparnya. Maka diapun bangun. Dia buka pintu, dan masya Allah, diterimanya adik iparnya tersebut dengan senyuman, marhaban, marhaban, marhaban. Mukanya tersenyum, mulutnya berbicara manis, tetapi dalam hatinya dia berbicara: “mengapa dia ini datang pada waktu yang tidak tepat, suasana yang tidak tepat ini ?”. Dalam hatinya, dia tidak suka kedatangan tamu tadi. Lisannya mengatakan menerima dan mukanya ramah, tetapi hatinya berkata  lain. Kemudian isterinya bangun dan melihat adiknya sendiri yang datang, maka diterimanya dengan baik, dengan muka tersenyum dan perkataan yang manis. Selanjutnya dia pergi ke dapur, serta membuatkan teh untuk adiknya. Kalau si suami menerima kedatangan adik iparnya dengan mulut manis, tetapi hatinya tidak suka, maka si isteri menerima dengan tulus ikhlas, dengan wajah manis dan senyuman serta di hatinya juga demikian, karena yang datang adalah adiknya sendiri, keluarganya sendiri, maka kedatangannya diterima dengan baik. Apa yang ada dalam hatinya, itulah yang ada di lisannya.

Demikianlah, apabila iman seseorang itu hanya ada di lisan, dan belum menghunjam dalam hatinya, maka dia tidak akan sanggup menjawab pertanyaan kubur. Kalau iman sudah ada dalam hati, yakin terhadap kodrat Allah, yakin terhadap Dzat Allah, yakin kepada sunnatullah dan semuanya terhunjam dalam hatinya, maka dengan mudahnya kita akan dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Allah dalam kubur nanti.

Sebenarnya amalan ummat manusia hari ini, tidaklah kurang. Banyak sekali amalan-amalan yang dikerjakan oleh orang. Bahkan hampir seluruh dunia, penuh dengan amalan-amalan manusia, yang mana pada jaman-jaman terdahulu, belum ada amalan-amalan sebanyak yang dilakukan manusia saat ini. Kalau kita lihat, jumlah masjid saat ini sangatlah banyak, yang mana jumlah ini belum pernah ada pada masa-masa dahulu. Begitu pula orang yang sholat hari ini, jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang sholat pada jaman dahulu. Begitu pula para hafidz Al Quran, dan orang alim yang ada pada hari ini, jauh lebih banyak dibandingkan dengan jaman terdahulu. Orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan agama saat ini, jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang mengerjakan pada jaman dahulu. Meskipun begitu banyak amalan agama, banyak masjid, banyak hafidz, banyak orang alim, tetapi mengapa orang Islam saat ini justru dalam kehinaan ?. Dan tidak ada kehinaan ummat Islam saat ini lebih banyak dibandingkan dengan ummat yang terdahulu. Tidak ada cucuran darah ummat Islam yang lebih banyak ditumpahkan ke permukaan bumi pada saat ini, dibandingkan dengan cucuran darah yang terdahulu. Kenapa semua ini terjadi , dan sebab apa ini terjadi ?. Semuanya ada. Apa yang tidak ada ?. Yang tidak ada, adalah keyakinan dalam hati ummat Islam saat ini. Hati manusia saat ini, telah kosong terhadap Dzat Allah, telah kosong terhadap kodrat Allah. Keyakinan terhadap hari kebangkitan, keyakinan terhadap sorga dan neraka, telah kosong di hati manusia, sehingga ruh agama sudah hilang dalam kehidupan ummat sekarang.

Lisan kita mudah berkata, bahwa kerajaan tidak ada apa-apanya. Harta tidak ada apa-apanya. Begitu pula gunung, matahari, bulan, bintang, emas, semua tidak ada apa-apanya. Lagi dan lagi, semua itu kita ucapkan di lisan dengan mudahnya. Tetapi, pada saat kita berbenturan dengan benda-benda yang kita hajatkan tersebut, maka pada saat itulah hati kita tidak dapat menolak terhadap benda-benda yang kita hajatkan tadi.

Hati manusia akan selalu ta’at kepada sesuatu yang diinginkan tersebut. Para Anbiya AS, menggunakan medan atau lahan usaha merekayang berupa hati-hati manusia. Apabila di hati manusia diibaratkan sebagai bumi, kemudian tertanam bibit-bibit keyakinan yang benar terhadap kodrat Allah, terhadap sunnatullah, terhadap zat Allah, terhadap sorga, terhadap neraka dan sebagainya, maka manusia akan mudah menta’ati  segala perintah Allah. Berhadapan dengan segala bentuk kebendaan di dunia ini, baik itu pertanian, perdagangan, perekonomian, dan segala macam bentuk-bentuk yang ada di dunia sejak Nabi Adam AS sampai Muhammad SAW, bagi seorang yang beriman, hanya dengan satu kalimat yaitu “laa ilaaha illallah”.

Untuk itu, yang pertama kali harus kita tanamkan di hati adalah bahwa Kholiq kita adalah Allah SWT. Dia yang menciptakan segala-galanya. Dan Allah-lah yang meletakkan sifat mudhorot dan manfaat dalam kebendaan tersebut. Allah yang menciptakan, dan seluruh yang dicptakan-Nya berhajat kepada Allah SWT. Tidak ada satupun benda yang bermanfaat bagi Allah dan tidak ada satupun yang mudhorot bagi Allah,  tetapi benda-benda itu semuanya berhajat kepada Kholiq-nya Allah.

Sifat-sifat Allah harus senantiasa kita tanamkan dalam hati kita, sehingga kita yakin bahwa Allah Kholiq, Allah yang mencipta, Allah Qodir, Allah yang berkuasa, Allahu shomad, Allah tidak berhajat kepada ciptaan-Nya, tetapi ciptaan-Nya yang berhajat kepada Allah.

Kapan keyakinan ini akan datang ?. Yaitu dengan usaha. Dan bukan sembarang usaha, tetapi usaha para Anbiya AS. Bukan usaha yang dibuat oleh manusia, tetapi usaha yang dibuat oleh para Anbiya. Apakah usaha itu ?. Yaitu dakwah. Dalam medan dakwah inilah, iman akan diajarkan. Iman tidak akan datang di rumah dengan begitu saja  atau di bawa angin, tetapi kapan iman akan datang ?. Yaitu pada saat orang berjalan keluar dan berjuang di jalan Allah SWT. Pada saat manusia keluar dan berjuang di jalan Allah, merasakan kepanasan di tengah terik matahari, kedinginan di tengah hujan yang lebat, tetapi terus berkorban, bermujahadah, dan penuh dengan kesabaran, berbagai macam hantaman dia hadapi, maka pada saat itulah imannya akan terbentuk.

Iman tidak akan datang hanya dengan pembicaraan, dengan ceramah-ceramah, dengan mendengar bayan, dengan bacaan, dengan tulisan, dengan berbagai cara ini iman tidak akan terbentuk. Tetapi, iman akan datang dengan cara mengikuti usaha dakwah yang dibuat oleh Rasulullah SAW. Berjuang dan pergi ke medan dakwah dengan penuh pengorbanan, maka sifat yakin akan terbentuk. Iman akan datang, pada saat kita keluar di jalan Allah dan menangis di hadapan Allah. Pada saat kita keluar di jalan Allah, kita bayangkan tentang kebesaran Allah, kita katakan tentang kebesaran Allah, kita sampaikan tentang kebesaran Allah kepada manusia lainnya, maka kebesaran Allah tersebut akan datang di hati kita. Kita sampaikan tentang kebesaran Allah, hingga kebesaran makhluk keluar dari hati kita. Menafikan segala kebesaran benda-benda yang ada di luar badan kita seperti pertanian, perdagangan, semua itu baru separuh dari iman. Sedangkan menafikan semua apa yang ada pada diri kita, dan semua yang kita miliki, itulah yang disebut kesempurnaan iman.

Untuk mengatakan bahwa toko kamu tidak bermanfaat, perdagangan kamu tidak bermanfaat, untuk menafikan yang kita miliki, menafikan usaha kita, itu adalah suatu hal yang sulit. Kapan kita dapat menafikan itu semua ?. Yaitu pada saat kita keluar dan berjuang di jalan Allah. Pada saat itu, kita juga dapat menafikan bahwa diri kita, juga tidak dapat  bermanfaat bagi keluarga sendiri. Setelah kita keluar 4 bulan di jalan Allah, baru kita akan tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati kita. Pada saat itulah kita tahu apa yang ada di hati kita, apakah yakin pada kebendaan atau yakin kepada Allah. Inilah masa atau waktu ujian dari Allah SWT. Saat keluar kita harus tanamkan di hati kita, bahwa apa yang ada dari langit sampai bumi yang mengatur adalah Allah dan semua adalah ciptaan Allah, Rabb mereka adalah Allah. Dicontohkan, bagaimana keyakinan Sofyan Ats-tsauri Rah.A. Seandainya bumi ini menjadi kuningan semua, dan langit adalah besi, tidak ada satupun biji yang dapat tumbuh di bumi, dan tidak ada setetespun air yang turun dari langit, selama keyakinan masih tertanam dalam hati, maka Sofyan Ats-tsauri yakin bahwa Allah SWT akan pelihara dia. Namun demikian, kalau dalam kondisi semacam itu, kemudian dia katakan siapa yang akan pelihara saya, maka Sofyan Ats-tsauri katakan bahwa ia tidak beriman. Selama keyakinan tidak tertanam dalam hati kita, maka kehidupan kita tidak akan berubah. Kehidupan kita tidak akan berubah dengan ilmu, dan juga tidak berubah dengan amalan, tetapi kehidupan akan berubah dengan keyakinan yang ada pada hati kita. Seseorang yang telah berbuat maksiat, dia berzina, dia korupsi, dan segala macam bentuk kemaksiatan lainnya tidak akan dapat berubah, selama keyakinan terhadap Allah tidak tertanam dalam hatinya.

            Rasulullah SAW, berusaha di Mekkah untuk menanamkan keimanan di hati manusia, selama 13 tahun. Tidak ada Nabi yang lebih besar dari Rasulullah SAW, Beliau adalah Nabi yang termulia, dan Beliau mengajarkan iman. Tidak ada pengajar yang lebih baik dari Rasulullah SAW, dan tidak ada pelajar yang lebih hebat dari para Sahabat RA. Pengajarnya adalah yang terbaik dan santri atau pelajarnya yang terbaik pula. Tetapi untuk menanamkan keimanan, berapa tahun ?. 13 tahun dibutuhkan waktu untuk menanamkan iman. Kalau begitu, berapa tahun untuk menanamkan keimanan dalam hati kita ?.

Apabila kita berdakwah kepada orang lain dengan mengatakan : “Wahai saudara, kerjakanlah sholat dengan betul”. Maka dia akan jawab: “Insya Allah, saya akan solat dengan betul”. Dia bersedia untuk mengerjakan sholat. Kemudian kita katakan : “Wahai saudara, kerjakanlah ibadah haji”. Maka dia akan jawab: “Insya Alah, saya akan kerjakan haji”. Kemudian kita katakan : “Wahai saudara, bacalah Al Quran dengan betul”. Maka dia akan jawab: “Insya Allah, saya akan baca Al Quran dengan betul”. Dia senang diajak sholat, dia senang disuruh pergi haji, dia senang disuruh baca Al Quran. Tetapi, kalau kita katakan  kepadanya : “Wahai saudara, hendaklah engkau belajar iman dengan keluar 4 bulan”. Maka dia akan marah. Maka dia akan katakan kembali kepada kita: “Hai saudara, apakah saya tidak beriman, sehingga harus belajar iman lagi ?”. Hadirin sekalian, inilah yang disebut misunderstanding, kesalah pahaman dalam kehidupan kita sejak kita lahir di muka bumi, kita merasa diri kita sudah beriman, yang berarti tidak perlu lagi belajar iman. Inilah kesalah pahaman ummat Islam saat ini, sehingga mereka sekarang dalam kehinaan.

            Pada saat ini iman kita ini tidak ada. Di hati kita, tidak ada tergambar tentang iman. Oleh karena itu, meskipun kita beramal, beramal terus, tetap saja amalan tadi tidak dapat mengeluarkan kita dari kehinaan. Maka dari itu, usaha kita yang paling utama adalah belajar iman. Kuatkanlah iman kita, seperti yang pernah dikatakan oleh para sahabat Nabi SAW, bahwa: “Pertama kali yang kami pelajari adalah iman, kemudian  baru kami mempelajari Al Quran. Sehingga dengan demikian, Al Quran menambah keimanan kami”. Yang namanya iman, bukan percaya kepada yang dhohir, tetapi yang dikatakan iman itu adalah percaya kepada yang ghoib. Iman kepada yang ghoib itulah yang dinamakan iman. Yakin dan percaya kepada yang diberitakan oleh Allah SWT, yakin kepada yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, itulah yang namanya iman. Inilah iman yang dipelajari oleh para sahabat RA, dan inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

            Sahabat Ali RA mengatakan: “Apabila dibukakan hijab kepadaku, diperlihatkan sorga dan segala kenikmatannya, sorga dengan makanan, buah-buahan, sorga dengan bidadari, begitu pula  istana diperlihatkan kepadaku, maka apa yang telah dikatakan dan diberitakan oleh Rasulullah SAW kepadaku, tidak ada bedanya. Bagiku tidak ada bedanya, sorga yang dinampakkan dengan nyata di hadapan mataku dan apa yang diberitakan oleh Rasulullah SAW”.

            Pada suatu hari Sayidina Ali RA sakit keras. Betul-betul sakit, dan ruh hampir keluar dari tubuh Beliau. Maka semua yang ada di sekitar Sayidina Ali RA, menangis dan menangis. Beliau kemudian membuka matanya melihat orang pada menangis, dan Beliau  bertanya : “Mengapa kalian menangis ?.” Dijawab oleh yang hadir: “Kami menangis, karena melihat keadaanmu yang sakit keras semacam ini, dan engkau akan meninggal dunia”. Mendengar jawaban ini, Sayidina Ali RA langsung bangun dari tempat tidurnya dan mengatakan: “Demi Allah, saya tidak akan mati karena sakit ini. Karena saya yakin kepada apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW kepada saya, bahwa: “Wahai Ali, engkau tidak akan mati, sebelum darah mengucur dari kepalamu dan membasahi jenggot-jenggotmu. Maka saya tidak akan mati, karena sakit yang sedang saya derita ini”. Itulah iman yang ada pada Sayidina Ali RA. Beliau yakin kepada apa yang diberitakan oleh Rasulullah SAW.

            Pada suatu hari Sayidina Ali RA bangun dari tidurnya. Ternyata, Beliau melihat ada orang-orang yang berjaga di sekitar rumah Beliau. Kemudian Beliau bertanya: “Wahai saudara-saudara, apa yang kalian jaga di rumahku ini ?. Apakah kalian menjagaku dari orang-orang di langit atau orang-orang di bumi ?”. Dijawab oleh para penjaga tersebut: “Kami menjaga tuan dari kejahatan orang-orang yang ada di bumi ini, karena kami tidak mampu menjagamu dari mereka yang ada di langit”. Maka dikatakan oleh Sayidina Ali RA : “Wahai saudara-saudara kembalilah kalian ke rumah masing-masing dan tidurlah. Jangan kau ganggu tidur tersebut. Apapun yang akan terjadi di bumi ini, sudah diputuskan di langit sana. Kalau sudah diputuskan di langit bahwa saya akan mati, dengan perbuatan orang di bumi, maka keberadaan kalian untuk menjagaku tidak akan bermanfaat, karena pasti saya akan mati. Dan kalau saya sudah diputuskan akan dipelihara oleh Allah SWT, maka sekian banyak orang berusaha akan menghancurkan diriku, maka mereka sama sekali tidak akan dapat berbuat apa-apa”. Inilah iman para sahabat. Yakin dengan apa yang diberitakan oleh Allah SWT dan yakin kepada apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW. Yakin kepada yang ghoib.

            Orang-orang bertanya kepada Sayidina Ali RA : “Wahai Ali, bagaimana ketika kamu tidur pada saat malam hijrahnya Rasulullah SAW”. Dijawab oleh Sayidina Ali RA: “Pada malam itu, saya dapat tidur dan merasakan ketenangan serta nikmatnya tidur yang belum pernah saya rasakan sampai saat ini. Saya rasakan kenikmatan tidur dan ketenangan pada malam hijrah tersebut, melebihi malam-malam yang lain”. Padahal malam itu, ada ancaman dari 100 pedang, yang berarti dapat terbunuh karena tidur di atas pembaringan Baginda Rasulullah SAW. Kenapa ?. Karena, dikatakan oleh Sayidina Ali RA : “Pada malam tersebut, sebelum Nabi keluar dari rumah Beliau katakan kepadaku: “Hai Ali, besok pagi engkau akan bangun. Serahkanlah amanah-amanah ini. Serahkan uang-uang ini kepada si Fulan, si Fulan dan si Fulan. Kemudian, wahai Ali, nanti Engkau akan mejumpaiku di kota Madinnah”. Maka dikatakan oleh Sayidina Ali bahwa: “Saya yakin tidak akan mati pada malam tersebut. Dan paginya saya akan menunaikan amanah Rasulullah SAW dan saya yakin tidak akan mati, sebelum sampai di kota Madinnah”. Inilah imannya para sahabat RA.

Suatu hari Rasulullah SAW sedang berjalan, kemudian diikuti oleh seorang Yahudi. Salah satu sahabat dari Anshor, melihat peristiwa tersebut, kemudian timbul tanda tanya, mengapa Yahudi itu mengikuti langkah-langkah Rasulullah SAW dengan cepat, dan dia tahu bahwa orang-orang Yahudi sering berbuat kejahatan terhadap orang-orang Islam, baik di jaman dahulu maupun sekarang. Bahkan kejahatan orang-orang Yahudi sekarang lebih ganas dibandingkan dengan dahulu. Mereka selalu memusuhi orang-orang Islam. Melihat orang Yahudi berjalan di belakang Rasulullah SAW, maka orang Anshor tersebut mengejarnya dan berjaga-jaga kemungkinan orang Yahudi tersebut, akan berbuat kejahatan kepada Rasulullah SAW. Setelah orang Yahudi tersebut dapat mengerjar Rasulullah SAW, maka dipeganglah tangan Rasulullah SAW dan dikatakannya : “Wahai Muhammad, engkau telah berhutang kepadaku, dan sampai sekarang engkau belum membayar”. Maka dijawab oleh Rasulullah SAW : “Dulu saya sudah bayar hutang saya”. Yahudi menyahut: “Belum, kau belum bayar hutang”. Nabi SAW jawab: “Sudah, sudah saya bayar”.  Yahudi berkata: “Siapa saksinya ?”. Maka orang Anshor yang mengikuti dan memperhatikan peristiwa tersebut mengatakan: “Saya ya Rasulullah yang menjadi saksi. Tuan sudah membayar hutang tuan”.  Akhirnya orang Yahudi tersebut pergi, karena sudah ada saksi bahwa Nabi SAW sudah membayar hutangnya. Setelah orang Yahudi pergi, maka Rasulullah SAW bertanya kepada sahabat Anshor tadi : “Wahai sauadara, ketika saya berhutang dan ketika saya membayar hutang, kamu tidak ada. Kenapa engkau berani menjadi saksi bahwa saya telah membayar hutang ?”.  Dijawab oleh sahabat tersebut: “Ya Rasulullah, mata saya boleh salah memandang, lisan saya boleh salah berbicara, dan telinga saya boleh salah mendengar. Tetapi, apa yang kau katakan, apa yang kau ucapkan, tentu tidak akan salah. Apa yang kau katakan bahwa engkau telah membayar hutang, maka saya yakin bahwa engkau telah membayar hutang tersebut”. Mendengar ketegasan dan jawaban itu, Rasulullah SAW sangat gembira dengan sahabat Anshor tersebut dan Beliau katakan : “Kalaulah saksi itu harus dua orang, maka untuk kau cukup satu orang saja”.
Karena keyakinan sudah keluar dari hati kita, maka ruh amalan ini telah hilang. Ruh dzikir kita lemah, ruh sholat kita lemah, ruh zakat kita lemah, dan seluruh nur amalan-amalan kita telah keluar dari diri kita. Karena apa ?. Karena lemahnya iman yang ada pada diri kita. Maka dari itu, kalau kita keluar 4 bulan, sebenarnya kita berusaha mencari mahol atau suasana yang baik, yang selama ini telah dikitari oleh lingkungan yang kurang baik. Selama kita tidak keluar dan berjuang di jalan Allah dan tidak mendakwahkan tentang iman kepada orang lain sebanyak-banyaknya, dan kita tidak menangis di hadapan Allah untuk  diberikan iman tersebut, maka selama-lamanya keyakinan kepada kebendaan tidak akan keluar dari diri kita.

Lisannya orang Islam hari ini, mereka mengagungkan Allah, mereka merasa dirinya bersama Allah,  Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar. Lisannya mengagungkan Allah, mengagungkan Rasulullah Hadirin yang dimuliakan oleh Allah SWT, tetapi dalam hatinya meyakini seakan-akan mengatakan bahwa Allah tidak ada dan Rasulullah tidak ada. Oleh karena itu, orang-orang Islam saat ini senantiasa dalam kehinaan, karena di hati mereka tidak  ada Allah dan tidak ada Rasulullah SAW.

Sayidina Hussain RA, beliau pergi ke Kuffah. Beliau sudah berjanji akan ke sana, dan memang kedatangannya diminta oleh orang-orang Kuffah. Maka Beliau pergi ke Mekkah dulu, untuk thawaf. Setelah thawaf, Beliau bertemu dengan Abdullah Bin Zubair RA. Setelah Abdullah Bin Zubair RA, mengetahui bahwa Sayidina Hussain RA akan pergi ke Kuffah, maka dinasehati: “Wahai saudara, janganlah engkau pergi ke sana.  Karena orang-orang Kuffah, adalah orang-orang yang banyak melakukan makar. Jadi mereka tidak dapat dipercaya. Engkau jangan pergi ke sana”. Jawab Sayidina Hussain RA : “Saya sudah berjanji untuk pergi ke sana, bagaimanapun saya akan tunaikan janji tersebut”. Kemudian Beliau melanjutkan perjalanannya, dan berjalan, berjalan terus menuju ke Kuffah. Di pertengahan jalan, Beliau bertemu dengan orang-orang yang baru pulang dari Kuffah. Beliau bertanya: “Bagaimana keadaan orang-orang di Kuffah ?”. Jawab orang-orang tadi : “Wahai Hussain, sebaiknya engkau pergi kembali ke Madinnah, jangan pergi ke Kuffah. Keadaan tidak baik di sana. Kembalilah saja”. Maka kata Sayidina Hussain RA : “Saya bukan minta bermusyawarah dengan kalian. Tidak. Saya ingin menanyakan, bagaimana keadaan orang-orang Kuffah. Bagaimanapun, saya akan datang. Karena saya sudah berjanji, dan apapun yang akan terjadi saya akan tepati janji untuk datang ke Kuffah. Cuma, saya ingin tanya kepadamu, bagaimana keadaan orang-orang Kuffah, tolong jelaskan”. Mereka kemudian menjawab : “Orang Kuffah, lisan mereka bersama kamu. Lisan mereka menantikan kehadiran kamu, memujimu. Semua rumah menantikan kehadiranmu dan memuji dirimu. Lisan mereka memuji kamu, tetapi pedang mereka bersama Yazid”.

Demikianlah keadaan ummat Islam saat ini, lisan mereka bersama Allah SWT dan Rasulullah SAW, tetapi amal mereka bersama orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka bagaimana akan datang pertolongan dari Allah SWT. Coba pikirkan. Jadi pertolongan Allah akan datang, seandainya ada kehidupan Nabi SAW dalam ummat ini. Maka selama kehidupan atau sunnah Nabi tidak datang pada diri ummat ini, selama itu pula pertolongan Allah tidak akan datang. Kita menginginkan kejayaan dalam harta, dalam kerajaan, dalam kedudukan, dalam pangkat dan sebagainya. Padahal kejayaan dan kesuksesan, tidak diletakkan oleh Allah dalam kebendaan tersebut, tetapi dalam cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Di Baghdad pada waktu itu ada 2.200.000 orang muslim. Mereka muslim, tetapi kehidupan Islam tidak ada pada diri mereka. Kehidupan cara Nabi, telah keluar dari kehidupan mereka, maka mereka banyak mendholimi orang. Dan pada waktu itu, ada kaum Tartar. Orang-orang Muslim di Bagdad telah berbuat dholim kepada orang-orang Tartar. Pada suatu hari, pimpinan mereka, naik ke atas gunung. Dia berteriak memanggil tuhannya, untuk membantu orang Tartar. Tetapi tidak ada jawaban. Maka dia ganti memanggil Tuhannya orang Islam. Dan dia berkata: “Hai Tuhannya orang Islam , kalaulah Engkau haq, maka bantulah kami melawan orang-orang Islam karena kami telah didholimi ”. Maka ada jawaban atau suara: “Seranglah orang-orang Islam. Nanti akan ada pertolongan untuk kamu”. Pada saat peperangan terjadi, jumlah orang Tartar sangat sedikit sekali. Tetapi dengan jumlah yang sedikit tersebut, mereka dapat menang atas orang-orang Islam yang jumlahnya lebih banyak. Di antara 2.200.000 orang Islam di Bagdad, sebanyak 1.700.000 orang Islam mati dan dilemparkan ke sungai Dajla. Satu orang wanita Tartar, berhasil membunuh sekian banyak orang Islam. Wanita tadi, mengatakan kepada orang Islam: “Kamu berdiri di sini semua, saya belum membawa senjata. Tunggu di sini, saya akan pulang mengambil senjata, dan jangan ada yang bergerak”. Kemudian wanita tersebut pulang ke rumahnya. Dia balik ke medan perang, dan dibunuhnya satu persatu orang Islam tersebut. Orang-orang Islam itu, tidak ada yang berani melawan wanita tadi.

Setelah peperangan selesai dan kemenangan berada di kaum Tartar, maka salah satu dari pemimpin mereka mengumpulkan bala tentaranya.  Dan dia berkata: “Wahai tentara-tentaraku, kemenangan kalian ini bukan atas pertolongan tuhan kita. Tetapi, semata-mata hanya sebab pertolongan Tuhannya orang-orang Islam sendiri. Maka sekarang, ucapkanlah: “Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah”. Dan sebagian tentara Tartar masuk Islam, kemudian menyebarkan agama Islam ini sampai ke daratan China. Jadi Allah bersama dengan yang haq. Tidak bersama dengan yang tidak haq.

Ada dua orang Islam. Tetangga mereka ada orang kafir. Tanahnya orang yang bukan Islam diambil. Apabila kita ini betul-betul Islam, maka tanah tadi tidak akan kita serahkan kepada orang Islam yang satunya lagi, tetapi akan kita kembalikan kepada orang yang bukan Islam tadi yang menjadi pemiliknya. Itulah yang namanya haq. Apabila orang Islam yang telah mengambil hak orang kafir tadi, kemudian mengembalikan tanah itu kepada orang kafir, apabila ini terjadi dan orang-orang Islam senantiasa berbuat yang demikian, maka pada saat itu Allah akan bersama dengan orang-orang Islam tersebut.

Oleh karena itulah, Rasulullah senantiasa mengingatkan para sahabat Beliau: “Hati-hatilah dengan do’a orang-orang yang didholimi. Karena tidak ada hijab antara mereka dengan Allah SWT. Tidak ada penghalang antara langit dan bumi, dan do’a mereka senantiasa diterima oleh Allah”.

Agama Islam, adalah agama yang membawa haq. Namun demikian, anehnya orang-orang Islam saat ini, tidak siap menerima yang haq. Karena mereka tidak dapat membedakan yang haq dan tidak haq, yang bathil dan tidak bathil, maka pertolongan Allah tidak bersama orang-orang Islam tersebut. Kalaulah orang-orang Islam ini menyadari mana yang haq dan tidak haq, dan melaksanakan hal-hal yang haq saja, maka tidak ada satupun orang Islam yang tidak sholat lagi.

Bagaimana caranya untuk meyakini yang haq adalah haq dan yang tidak haq adalah tidak haq, maka kita harus usaha untuk semua ummat Islam di seluruh dunia. Dengan demikian, maka dakwah yang kita kerjakan sekarang ini adalah bertujuan untuk mengembalikan orang Islam, untuk memahami yang haq adalah haq dan yang tidak haq adalah tidak haq.

Kenapa pada saat sekarang ini ummat Islam dalam keadaan kebingungan, dalam kesusahan, tidak ada solusi dari berbagai masalah yang mereka hadapi ?. Karena mereka meninggalkan amal agama, meninggalkan sholat, lari kepada partainya, lari ke pada kaumnya,  lari kepada golongannya dan di sisi lain mereka meninggalkan agamanya. Pada saat ini, manusia ada semangat dan keinginan untuk menunjukkan ke-nasionalisme-annya, kenegaraannya, kesukuannya, tetapi untuk menunjukkan semangat bahwa mereka sebagai ummat Rasulullah SAW, tidak ada.

Inilah tugas kita saat ini, berdakwah ke seluruh dunia, pergi dan menjumpai  orang-orang Islam, ajarkan kembali tentang iman, tanamkan kembali keyakinan kepada Allah SWT, dakwahkan kepada mereka, maka dengan cara ini orang kafirpun akan terdakwahi oleh usaha dakwah kita. Jadi, kita sekarang ini keliling ke seluruh dunia, kita ajak kepada orang-orang Islam untuk kembali kepada iman yang benar dan menguatkan iman-iman mereka, kita ajak kepada keimanan yang betul, dan kepada orang-orang kafir kita dakwahkan agar masuk ke dalam Islam. Telah difirmankan oleh Allah SWT : “Ya ayuhalladzina amanu” kita ajak orang Islam kepada iman, kuatkan iman, tanamkan iman dengan betul,  sedangkan kepada orang kafir “masuklah kepada Islam, kalian akan selamat”.

Jadi, selama keimanan tidak terhunjam dalam hati kita, kita tidak akan mampu melaksanakan Islam dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian, Islam tergantung kepada keimanan. Selama keyakinan kepada Allah SWT belum tertanam dalam hati kita dari ujung kaki sampai ujung rambut, maka Islam tidak dapat kita laksanakan dengan baik. Itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW selama 13 tahun, mengajar keimanan kepada para sahabat RA selama di kota Makkah. Maksud dan tujuan perjuangan selama di Makkah tersebut, adalah menanamkan keimanan sampai hari kiamat. Sedangkan kehidupan di Madinah adalah janji. Jadi, kehidupan Madani yang dijanjikan oleh Allah SWT tidak akan terwujud dalam kehidupan kita, selama kehidupan Mekkah yaitu kehidupan yang berdasarkan keimanan belum tertanam dalam diri kita. Itulah usaha Nabi SAW yang pertama, yaitu bagaimana agar iman tertanam ke dalam hati-hati para sahabat RA. Dalam mengajar keimanan kepada para sahabat RA, Rasulullah SAW, mengatakan: “Lihatlah aku. Lihatlah kehidupanku”. Bukan lihatlah si fulan atau si fulan yang lainnya. Itulah Islam, senantiasa melihat perintah Allah Ta’ala dan melihat kehidupan Baginda Rasulullah SAW.

Apabila iman telah terbentuk dan amalan Islam ada dalam kehidupan kita, maka pada saat itulah pertolongan Allah dari langit akan datang untuk ummat ini. Selama ummat Islam tidak mempelajari iman, tidak mempelajari Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari, maka selama itu pula mereka akan terkesan dan yakin terhadap kebendaan, yakin kepada harta, yakin kepada kedudukan, dan yakin kepada apa saja selain Allah SWT. Tetapi, apabila ummat Islam ini sudah mempelajari iman, mempelajari Islam, maka pada saat itu pertolongan Allah akan turun dan  tanpa kebendaan itu Allah mampu untuk memelihara mereka. Untuk menyempurnaan keperluan manusia, Allah tidak meletakkan kepada kebendaan, tidak diletakkan kepada kerajaan, tidak diletakkan pada harta, tetapi Allah meletakkannya pada amalan yang ada pada diri Rasulullah SAW. Para sahabat RA, untuk menunaikan hajat hidup mereka, tidak pernah menundukkan kepalanya kepada raja-raja, juga tidak menudukkan kepala kepada makhluk, tetapi langsung menundukkan kepala di hadapan Allah SWT dengan mengerjakan sholat.

Meminta bantuan kepada Allah SWT, itulah yang disebut sebagai ibadah, dan memberikan bantuan kepada makhluk itulah yang disebut akhlak. Pada saat ummat Islam betul-betul mereka hanya meminta kepada Allah melalui ibadah yang mereka kerjakan, dan memberikan kemanfaatan kepada makhluk yaitu yang namanya akhlak tadi, maka pada saat itulah pintu untuk masuk Islam akan terbuka lebar untuk orang-orang yang lain. Para sahabat RA, mereka sempurnakan perintah Allah, mereka kerjakan ibadah kepada Allah, dan keperluan pribadi mereka ditekan sedemikian rupa dan memberikan keperluan atau manfaat kepada orang lain, maka inilah yang namanya khalifah. Para sahabat RA menjadi khalifatullah di permukaan bumi, karena mereka hanya menyembah Allah, mengabdikan diri mereka kepada Allah, dan menekan keperluan mereka sehari-hari untuk diberikan kepada yang lain. Memenuhi perut sendiri itu namanya kebinatangan, dan memenuhi perut orang lain inilah yang disebut khalifah. Membangun rumah untuk diri sendiri itu namanya kebinatangan, dan membangun rumah untuk orang lain itulah namanya khalifah. Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada kita.
Para sahabat RA, demi agama mereka telah hijrah ke Madinah. Kemudian pada saat Mekkah dibuka kembali dan para sahabat pulang lagi ke Mekkah, jangankan untuk merebut rumah orang lain, untuk tinggal atau bernaung di rumah mereka sendiri saja yang telah ditinggalkannya hijrah, mereka berusaha untuk menghindarinya.

Seorang sahabat Nabi bernama Abdullah bin Ummi Maktum, seorang buta, dari kota Mekkah ikut hijrah ke Madinah. Setelah pembukaan Mekkah dia pergi ke Makkah bersama Rasulullah SAW. Sejak kecil dia tinggal di Mekkah, sehingga hafal betul lorong-lorong yang ada di kota Mekkah. Dia minta kepada Rasulullah SAW, : “Ya Rasulullah  saya sudah hafal betul lorong-lorong di kota Makkah ini, maka berikanlah saya sebuah rumah di sini, agar senantiasa saya mudah beribadah di Baitullah. Dan saya lebih hafal lorong-lorong di Mekkah dibandingkan dengan di Madinah”.  Rasulullah SAW kemudian berbisik kepada Abdullah Bin Ummi Maktum: “Wahai saudara, rumah-rumah di sorga lebih baik dari rumah-rumah di Makkah ini”. Mendengar bisikin ini, maka Ummi Maktum mengatakan : “Ya Rasulullah, cukuplah nasehatmu itu untuk saya, saya tidak akan tinggal di Makkah dan akan kembali ke Madinah untuk merindukan rumah-rumah di syurga Allah SWT”. Begitulah hadirin sekalian, seorang sahabat yang sudah buta yang tidak dapat melihat rumahnya sendiri, tapi ada keinginan untuk memilikinya kembali,  setelah ditegur oleh Rasulullah SAW, diingatkan akan adanya rumah-rumah di syurga, maka niatnya tersebut segera diurungkan.

Maka dari itu, marilah kita ajarkan kepada setiap orang Islam tiga kata-kata ini. Pertama, kepada orang Islam, kita katakan bagaimana mematangkan iman mereka. Kedua, bagaimana orang-orang Islam beribadah dengan betul. Ketiga, bagaimana setiap orang Islam, memperbaiki akhlak mereka. Dan ketiga-tiganya ini, akan datang dengan usaha. Iman akan terbentuk dalam usaha selama empat bulan. Begitu pula ibadah akan terbentuk dalam empat bulan dan akhlakpun akan terbentuk dalam empat bulan.  Maka siapa yang akan keluar empat bulan, akan terbentuk segala-galanya. Kalau kita keluar dan berjuang di jalan Allah selama empat bulan ini, maka iman, ibadah, dan akhlak akan terbentuk selama empat bulan tersebut. Insya Allah semua niat dan bersedia.

Semua dapat dicapai dengan usaha dan pengorbanan, tidak hanya dengan mendengarkan saja. Apabila ketiga perkara tadi yaitu iman, ibadah dan akhlak kita dakwahkan dan kita bicarakan lagi dan lagi selama keluar dan berjuang di jalan Allah, kemudian kita berdo’a meminta kepada Allah SWT, maka ketiga-tiganya akan terbentuk dalam kehidupan kita. Pada saat ketiga perkara tersebut terbentuk dalam kehidupan kita, maka pertolongan Allah akan datang kepada kita. Para sahabat telah mempelajari ketiga perkara tersebut, maka pertolongan datang kepada mereka. Kalau mereka perlu makanan, Allah beri makanan. Mereka perlu air, Allah beri air. Mereka perlu Malaikat, Allah turunkan Malaikat untuk mereka. Mereka minta kendaraan dari binatang, Allah berikan. Orang yang sudah meninggal dunia, mereka minta dihidupkan maka Allah hidupkan. Para sahabat RA percaya kepada yang ghoib atau nidhom ghoibi, sehingga Allah dan para Malaikat bersama para sahabat RA. Bagaimana sekarang, apakah nidhom ghoibi ingin bersama kita ?. Insya Allah.

Ketika iman sudah terhunjam dalam hati seseorang serta terbentuk secara betul, dan dia istiqomah, maka hasilnya pada saat dia menghadapi sakaratul maut sebanyak 500 malaikat akan datang menjemput ruhnya, membawa kain sutra dan bermacam-macam minyak wangi yang harum menjemput orang tersebut. Dan mereka katakan : “Jangan takut, jangan khawatir” dan diberikan khabar gembira yaitu sorga yang akan diberikan kepadanya. Dan mereka juga katakan : “Kamilah pembela-pembelamu di dunia dan juga di akhirat”. Para malaikat akan membela kepada mereka yang mempunyai iman kokoh dan istiqomah dalam keimanan tadi. Yakin bahwa Robb mereka adalah Allah, dan istiqomah dalam pengakuannya, maka pada saat di dunia maupun di akhirat para malaikat akan bersamanya.

Para sahabat RA, kemanapun mereka pergi para malaikat senantiasa bersamanya. Dua kali sahabat RA menyeberang lautan tanpa kapal, yaitu Saad bin Abu Waqosh RA bersama 10.000 orang tentaranya dan yang kedua adalah Al A’la Hadrami RA bersama 300 orang tentara menyeberang tanpa kapal. Pada saat Al A’la Hadrami RA dalam perjalanan pulang ke kota Madinah, di tengah malam mereka beristirahat dan tidur bersama para sahabatnya. Pada waktu bangun tidur di pagi harinya, semua kendaraan mereka hilang. Semua onta-onta mereka telah pergi. Para sahabat kebingungan, karena mereka tidak punya binatang kendaraan lagi. Hadrami RA mengatakan kepada mereka: “Jangan khawatir”. Kemudian dia  sholat dua rakaat, dengan bertayamum, minta kepada Allah SWT berdo’a sambil menengadahkan tangan agar mereka mendapatkan air dan onta-ontanya dikembalikan. Belum selesai mereka berdo’a, dan tangan-tangannya masih menengadah, Allah SWT pancarkan mata air di belakang Hadrami. Para sahabat kemudian minum, dan orang-orang di sekitar tempat itu serta binatang-binatangan mereka juga minum. Kemudian onta-onta para sahabat kembali semua, tanpa seekorpun yang ketinggalan. Inilah pertolongan Allah SWT.

Oleh karena itu, apabila agama ada dalam diri kita, amalan ada pada diri kita, maka pertolongan Allah akan mudah didapatkan. Bagaimana, apakah Anda ingin pertolongan Allah bersama kita ?. Insya Allah. Bagaimana, apakah hanya dengan suara-suara semacam ini kemudian menundukkan kepala lagi ?. Segala sesuatu tanpa usaha tidak akan datang. Satu suap nasi saja, tidak akan datang tanpa usaha. Bagaimana iman akan datang, yakin akan datang, Islam akan datang, tanpa adanya susaha ? Inginkah Islam akan muncul ke permukaan ?. Insya Allah. Siapa yang ingin kejayaan Islam muncul kembali?. Angkat tangan mudah, coba sekarang berdiri dan mencatatkan namanya, empat bulan ke luar di jalan Allah.

BAYAN ASHAR MAULANA SHAMIM DI MARKAZ INDONESIA, MASJID JAMI’ KEBON JERUK JAKARTA TANGGAL: 8 APRIL 2000


Alhamdulillah, dengan kasih sayang Allah SWT, dan dengan pertolongan Allah SWT, pada jaman ini masih kita diberikan kerja dan tanggung jawab oleh Allah SWT untuk mengerjakan suatu amalan yang mulia yaitu berdakwah. Kerja ini, adalah untuk seluruh alam. Rasulullah SAW dikirim ke muka bumi ini untuk seluruh alam, oleh karena itu maka kerja Beliau juga untuk seluruh alam. Dengan demikian, maka kita sebagai ummat Rasulullah SAW yang mengerjakan pekerjaan Beliau, juga dikirim untuk seluruh alam. Sebenarnya pekerjaan dunia yang kita kerjakan ini, hanya sekedar keperluan saja. Apa yang kita miliki di dunia ini yang sifatnya kebendaan, ini hanya untuk keperluan hidup saja. Sedangkan maksud hidup kita di dunia ini, adalah seperti maksud hidup Rasulullah SAW, yaitu dakwah illallah, mengajak seluruh manusia untuk ta’at kepada Allah SWT.

Usaha yang kita kerjakan di dunia ini yang sifatnya kebendaan, hanya untuk keperluan yang sangat sementara saja. Sebagai contoh, apabila kita kerja sebagai petani, maka hasil yang kita dapatkan hanya sebatas yang kita kerjakan yaitu sekali tanam hanya mendapatkan satu kali panen. Demikian pula, apabila kita kerja di toko, maka hasil yang kita peroleh dari toko tersebut, hanya sebatas usaha yang kita kerjakan. Apabila kita mencalonkan diri sebagai menteri, maka setelah terpilih kita hanya akan menjabat sebagai menteri satu kali saja. Dengan demikian, maka semua pekerjaan dunia yang kita kerjakan, hasilnya hanya sebatas yang dapat kita usahakan saja. Tetapi, kerja dalam dakwah ini, hasilnya tidak hanya satu kali saja. Pada saat kita masih hidup di dunia, pahala akan mengalir terus selama kita masih hidup. Sedangkan pada saat kita sudah meninggal, maka pahala masih akan Allah SWT berikan kepada buku amalan kita, dan pahala itu masih akan terus mengalir sampai ke anak cucu kita. Sehingga pada akhirnya, Allah Ta’ala akan memasukkan kita ke dalam sorga untuk selama-lamanya.

Kalau kita tengok kehidupan para sahabat RA, karena mereka mengerjakan dakwah, maka anak cucu mereka dipelihara oleh Allah seperti anak dan cucu para raja. Bahkan sampai saat ini, setelah 1.400 tahun sejak kehidupan para sahabat, keturunan mereka masih dipelihara oleh Allah Ta’ala dengan kasih sayang-Nya.

Pada suatu hari Nabi Khidir AS dan Nabi Musa AS, berjalan di suatu kampung. Di kampung tersebut, mereka mendapatkan bahwa orang-orang kampung itu, tidak menyambutnya dengan baik dan tidak melayani sebagaimana melayani tamu, tidak tawadhu’ kepada kedua Nabi Allah tersebut, mereka bedua dibiarkan saja. Malam hari mereka berdua menginap di kampung itu, dan keesokan harinya ditinggalkannya kampung tersebut. Setelah keluar kampung, di tepi kampung itu ada sebuah dinding yang akan runtuh. Nabi Khidir AS kemudian memperbaiki dinding itu supaya tidak runtuh. Musa AS kemudian bertanya : “Wahai Khidir, untuk apa kau perbaiki dinding tersebut ?. Orang kampung ini, tidak menghormati kita, tidak melayani kita, tidak tawadhu’ kepada kita, mengapa kau bersusah payah memperbaiki dinding kampung ini ?”. Dijawab oleh Khidir AS: “Wahai Musa, di kampung itu ada seorang anak yang mana kedua orang tuanya adalah orang-orang yang sholeh. Orang tua itu, meninggalkan harta warisan kepada anaknya yang terletak di bawah dinding itu. Kalau dinding itu roboh, maka anak tersebut tidak akan mendapatkan harta peninggalan orang tuanya”. Dari kisah ini, dapat ditarik suatu pelajaran, bahwa kedua orang tua tersebut yang telah berbuat baik untuk diri mereka sendiri yang berbuat amal sholeh, maka Allah SWT telah jaga anak-anak mereka, melalui tangan Khidir AS. Allah Ta’ala telah pelihara anak-anak mereka.

Dari pelajaran ini, maka apabila kita saat ini menyebarkan kebaikan-kebaikan di muka bumi ini, maka Allah Ta’ala akan jaga kita dan anak keturunan kita. Dengan mengajak manusia agar supaya ta’at kepada Allah SWT, maka di dunia ini anak-anak keturunan kita akan dijaga dan dipelihara oleh Allah SWT, sedangkan di akhirat nanti kita sendiri akan dijaga dan dipelihara oleh Allah SWT.

Azas dakwah yang pertama adalah yakin kepada Allah SWT. Pada saat kita berjuang keluar di jalan Allah, maka langkah pertama dan langkah terakhir yang harus kita kerjakan adalah membenarkan keyakinan kepada Allah SWT.  Dan inilah azas dakwah. Dengan kerja dakwah ini, Allah SWT telah memuliakan para Anbiya AS. Allah SWT telah meninggikan derajat mereka, telah mengangkat mereka, telah mensukseskan mereka. Demikian pula karena kerja dakwah ini, Allah SWT telah memuliakan dan memberikan kejayaan serta kesuksesan kepada para Sahabat RA, para Auliya dan para Wali. Begitu pula, apabila kita kerja dakwah, maka Allah SWT akan memberikan kemuliaan, kesuksesan, seperti yang telah diberikan kepada para Ambiya, para Sahabat, para Auliya dan para Wali. Tidak ada perbedaan terhadap manusia yang mengerjakan dakwah termasuk kita, Allah SWT telah janjikan kemuliaan serta keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah masalah yang haq, tidak ada keragu-raguan lagi terhadap janji-janji Allah SWT tersebut, apabila kita kerja dakwah maka Allah Ta’ala akan memelihara kita dan memuliakannya di dunia maupun di akhirat. Untuk itu, dalam kerja dakwah ini janganlah memandang terhadap asbab yang ada pada diri kita, jangan terkesan kepada asbab kita, jangan memandang asbab kita dan jangan memandang kepada orang-orang kaya. Janganlah tergantung kepada asbab yang ada pada diri kita, tetapi tergantunglah kepada kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Oleh karena itu, apabila seorang da’i  berpaling dari Allah SWT, maka akan sangat berbahaya bagi da’i tersebut.

Dalam Al Quran Allah SWT berfirman yang mahfumnya adalah : “Hai Muhammad, katakanlah kepada mereka, inilah jalan-Ku yaitu mengajak manusia kepada Allah, dengan keyakinan”. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW tidak mengakan “ini kerjaku” atau ini “kerjaku dengan Abu Bakar” atau ini “kerjakan dengan Umar” atau ini “kerjaku dengan para sahabat”. Tetapi, dikatakan: “saya dan pengikut saya” yang berarti dengan seluruh ummatnya termasuk kita yang hidup sekarang ini. Dengan kerja ini, Allah SWT telah memuliakan dan memberikan kesuksesan kepada Rasulullah SAW yang berarti kalau kita ikut mengerjakannya, maka kita juga akan mendapatkan kemulian dan kesuksesan dari Allah SWT.

Oleh karena itu, yang pertama kali harus kita sadari adalah bahwa kita ini adalah ummat Rasulullah  SAW. Jangan kita katakan bahwa : “Saya adalah suami sang isteri” atau “Saya adalah ayah dari anak-anak” atau “Saya adalah ummat negeri ini”. Tetapi yang harus kita sadari pertama kali: “Saya adalah ummat Rasulullah  SAW”. Setiap langkah yang akan kita kerjakan, apakah itu kita akan makan, minum, berpakaian, bepergian dan lain-lainnya yang harus kita ingat pertama yaitu: “Kita adalah ummat Rasulullah  SAW. Sedangkan yang harus diperhatikan lagi, janganlah kita menengok kerja manusia-manusia lainnya, tetapi lihatlah apa yang dikerjakan oleh Rasulullah  SAW.

Pada jaman sekarang ini, apabila kita buat kerja dakwah ini dengan segala keyakinan yang benar, dan mengatur kehidupan kita dengan keyakinan yang benar, maka pertama kali yang Allah SWT akan  kerjakan adalah memuliakan kita. Namun demikian, salah satu kesalahan yang sering dikerjakan oleh da’i pada saat dia mengerjakan dakwah, adalah hanya sekedar mengambil berkahnya saja, hanya sekedar mengharapkan pahala saja, dan tidak mempunyai niat, tekad atau fikiran bahwa kerja dakwah ini adalah maksud hidup saya. Janganlah usaha dakwah ini hanya sekedar untuk mencari berkah atau mendapatkan pahala saja, tetapi jadikanlah kerja ini sebagai maksud hidup. Apabila hal ini kita niatkan dengan benar, maka Allah SWT tidak hanya akan memberikan keberkahan dan pahala saja, tetapi juga akan memuliakan kita di dunia dan memuliakannya di akhirat untuk selama-lamanya dan dimasukkannya ke dalam sorganya Allah SWT yang paling tinggi.

Kelompok manusia yang paling tinggi kedudukannya di mata Allah SWT, adalah mereka yang menyebarkan agamanya Allah SWT. Sebagaimana para Anbiya AS, mereka adalah manusia yang tertinggi dan dimuliakan oleh Allah SWT, demikian pula kedudukan para Sahabat AS juga tinggi dan mulia. Para sahabat baik dari kelompok Muhajirin dan Anshor, juga mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia, karena mereka menjadikan dakwah sebagai maksud hidup mereka. Untuk manusia yang mengerjakan dakwah, maka Allah akan berikan kedudukan yang mulia di dunia dan kedudukan yang tinggi di akhirat nanti.

Sedangkan kelompok manusia yang kedua, adalah mereka yang beramal sholeh, tetapi tidak mengerjakan dakwah. Orang-orang ini bukan termasuk yang tertinggi dan juga tidak yang termulia. Memang kelompok manusia ini, nantinya di akhirat akan dimasukkan ke dalam sorganya Allah SWT. Tetapi, apabila di dunia Allah SWT menurunkan azab kepada orang-orang kafir atau orang-orang yang ingkar dan berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala, maka kelompok kedua yaitu manusia sholeh yang tidak berdakwah tadi, juga akan terkena azab tersebut.

Allah SWT telah menjadikan kita sebagai da’i. Sebagai da’i kerja kita adalah dakwah. Dakwah inilah kerja kita yang sebenarnya. Oleh karena itu, pada waktu kita kerja di dunia kita juga berdakwah, waktu mengajar kita juga berdakwah, waktu belajar kita juga berdakwah, waktu ke toko kita juga berdakwah, waktu ke kantor kita juga berdakwah, waktu ke sawah kita juga berdakwah, dan seluruh aspek kehidupan kita baik muamalat maupun muasyarat  tak terlepas dari kerja dakwah. Apabila seluruh ummat ini kerja dakwah dan dimanapun dia berada selalu berdakwah, maka agama akan tersebar ke seluruh alam. Tetapi, apabila ummat ini meninggalkan kerja dakwah, maka ummat ini akan menderita kerugian, yaitu agama akan keluar dari kehidupan mereka. Sedangkan kalau ummat ini mengerjakan dakwah, maka akan mendapatkan tiga manfaat, yaitu : Dengan dakwah, Islam akan tersebar ke seluruh dunia. Dengan kerja dakwah, pertolongan Allah SWT akan datang untuk ummat. Dengan kerja dakwah, nidhomul ghoib Allah akan diturunkan kepada orang yang mengerjakan dakwah tersebut. Apabila ketiga manfaat ini sudah terwujud, maka Allah akan memberikan manfaat satu lagi kepada para pekerja dakwah tersebut, yaitu do’a-do’a mereka akan diterima oleh Allah SWT.

Apabila ummat ini tetap mengerjakan dakwah, dan mereka menjadikan dakwah sebagai maksud hidupnya, maka para ahli bathil akan mendapat naungan dari kerja para da’i tersebut. Orang-orang ahli bathil, akan dengan mudah mengikuti kehendak ummat ini. Namun demikian, seandainya ummat Islam meninggalkan dakwah, maka Islam tidak akan tersebar lagi dan tertutup pula penyebaran agama Islam dan inilah kerugian-kerugian yang akan diderita oleh ummat. Kerugian berikutnya, Islam akan keluar dari kehidupan ummat ini.

Pada saat ummat Islam hanya mengerjakan sholat saja, dzikir saja, dan meninggalkan kerja dakwah, maka Islam akan keluar dari kehidupan ummat ini dan do’a-do’a mereka tidak diterima oleh Allah SWT. Kalau kerja dakwah ditinggalkan, maka wali-wali Allah SWT akan ikut orang-orang ahli bathil. Untuk itu, marilah kita jadikan dakwah ini sebagai kerja kita dan sebagai maksud hidup kita, seperti yang telah dikerjakan oleh para wali-wali Allah SWT yang terdahulu, sehingga pertolongan Allah SWT akan bersama dengan kita. Dengan dakwah ini, akan dapat mengatasi segala permasalahan yang sedang kita hadapi. Untuk itu, kita harus kerjakan dakwah ini dengan penuh keyakinan.
Dalam mengerjakan dakwah ini, kita harus penuh dengan rasa tawadhu’. Di dalam kerja dakwah ini, Allah SWT telah letakkan kebesaran-kebesaran, kemuliaan-kemuliaan, dan keagungan-keagungan. Oleh karena itu, dalam mengerjakan dakwah ini, jangan ada rasa sombong dalam hati kita. Jangan menilai diri kita lebih baik dari orang yang lainnya, karena apabila sifat ini muncul di hati kita, maka Allah SWT tidak akan memandang diri kita lagi.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran yang kurang lebih artinya: “Adakah sesuatu perkataan yang lebih baik, yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal sholeh”. Jadi apabila seorang da’i mengerjakan dakwah, maka apa yang dia dakwahkan harus dia kerjakan lebih dahulu. Apabila dia mendakwahkan suatu amalan, maka amalan tersebut harus ada pada diri dia dulu. Apabila dia mendakwahkan akhlak, maka akhlak harus ada pada diri dia dulu. Demikian pula dalam mendakwahkan amal–amal muasyarat yang lain, maka hal ini harus ada pada diri dia terlebih dulu. Apabila ini terjadi, maka apa yang kita dakwahkan akan mengesankan orang lain yang didakwahi. Pada saat orang lain terkesan, maka diri kitapun akan ikut terkesan dengan dakwah yang kita kerjakan. Sedangkan apabila kita berdakwah, sedangkan diri kita tidak melaksanakan apa yang kita dakwahkan tersebut, misalnya kita dakwah tentang amalan tetapi kita tidak melaksanakan amalan itu, kita dakwah tentang akhlak tetapi kita  tidak punya akhlak, maka orang lain tidak akan terkesan dengan dakwah kita dan diri kita juga tidak akan terkesan dengan dakwah itu sendiri.

Pada dasarnya, dakwah ini bukan untuk orang lain. Azas dari dakwah ini, adalah untuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, pada saat kita berdakwah, maka niat yang paling utama adalah untuk diri sendiri. Dengan pola pemikiran dan cara semacam ini, maka Allah SWT akan memberikan taufiq, Allah SWT akan memberikan kekuatan kita untuk beramal dan ini dampaknya akan sangat mengesankan diri kita sendiri, yang pada gilirannya akan mengesankan orang lain yang kita dakwahi.

Untuk itu, pada saat kita berdakwah dengan niat yang benar, maka Allah SWT akan mengikut sertakan orang lain dalam amalan-amalan kita. Allah SWT akan memberikan hidayah kepada orang lain, untuk mengikuti kerja dakwah yang kita lakukan. Sedangkan apabila mereka menolak dakwah kita, maka Allah SWT akan menghancurkan mereka.

Dalam kerja dakwah ini, harus kita imbangi dengan rasa tawadhu’. Kita menyebar ke seluruh alam untuk berdakwah, namun dengan sifat-sifat yang tidak congkak. Bahkan, kita harus sampaikan kepada orang-orang yang kita dakwahi tersebut, bahwa sebenarnya “kami sama dengan kalian”. Sebagaimana kaum muslimin yang lain, kita tidak ada bedanya. Rasulullah SAW, bersabda: “Barangsiapa yang tawadhu’ karena Allah, maka Allah SWT akan tinggikan derajatnya. Dan barangsiapa takabur atau sombong di hadapan Allah SWT, maka Allah akan hinakan dia dan akan menjatuhkannya”.

Sekali lagi, laksanakan dakwah ini dengan rasa tawadhu’ dan tidak sombong. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW, pada waktu masuk kota Mekkah pada saat hari kemenangan, atau pada saat terbukanya kota Mekkah yang mana Rasulullah SAW masuk kota itu dengan tentara-tentaranya, Beliau SAW tundukkan kepalanya bahkan sampai perut Beliau SAW hampir menempel di punggung ontanya. Padahal, Rasululllah SAW adalah orang yang mulai karena kerja dakwah, tetapi memasuki kota Mekkah yang telah ditundukkannya dengan rasa yang tawadhu’. Pada waktu itu, salah seorang pimpinan Anshor yang di tangannya ada bendera, dia katakan: “Hari ini adalah hari pembalasan”. Mendengar ucapan tersebut, kemudian Rasulullah SAW turun dari ontanya, dan diambilnya bendera yang sedang dipegang oleh sahabat tadi, sambil berkata : “Engkau tidak layak menjadi pimpinan. Hari ini bukanlah hari pembalasan, tetapi hari kasih sayang kepada ummat manusia”. Setelah bendera berada di tangan Rasulullah SAW kemudian diberikan kepada anak sahabat tadi. Inilah sifat tawadhu’ dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, kita harus mencontoh teladan yang telah diberikan oleh Baginda Rasulullah SAW, melakukan dakwah dengan tawadhu’ dan penuh dengan cinta serta kasih sayang kepada manusia yang lain.

Apabila dakwah ini tidak kita lakukan dengan mahabah, dengan cinta dan kasih sayang, maka yang akan terjadi adalah kerugian-kerugian, dan Allah SWT tidak berikan kepahaman kita terhadap usaha dakwah, kemudian kita juga dijauhkan dari kenikmatan-kenikmatan besar yang datangnya dari Allah. Kerja dakwah ini, adalah kerja yang besar, kerja yang penuh dengan keberkahan. Untuk itu, kita harus sering instrospeksi terhadap diri kita masing-masing. Kita lihat kesalahan-kesalahan apa yang sudah kita perbuat, dan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh orang lain itu juga disebabkan karena kesalahan kita sendiri.

Allah SWT telah menggunakan seumur hidup Maulana Ilyas Rah.A, untuk kerja dakwah. Seluruh harta-hartanya habis untuk kerja dakwah. Pada suatu saat, beliau pergi ke salah satu kota di India yang bernama Lucknow. Di tempat itu, beliau diundang oleh seorang Bupati yang kaya raya di wilayah itu, untuk sarapan pagi. Untuk keperluan itu, orang tadi mengutus pembantunya, menyampaikan undangan ke Maulana Ilyas. Pembantu itu, mengatakan kepada Maulana Ilyas : “Tuan, diundang oleh majikan saya untuk sarapan pagi pukul 09.00”. Padahal, undangan orang tersebut sebenarnya pukul 08.00, bukan pukul 09.00. Karena undangan dikatakan pukul 09.00, maka Maulana Ilyas datang tepat pada pukul 09.00. Sedangkan ulama-ulama lain yang diundang orang tadi, sudah datang terlebih dahulu, yaitu pukul 08.00, karena memang undangan yang disampaikan juga pukul 08.00. Lantaran Maulana Ilyas datang pukul 09.00, sesuai dengan waktu yang disampaikan oleh pembantu orang tadi, maka beliau telah terlambat satu jam. Oleh karena itu, maka Maulana Ilyas dicaci maki di hadapan para undangan lainnya, oleh bupati si pengundang tersebut. Dikatakannya: “Engkau telah buat kerja yang besar, tetapi pada saat menghadiri undangan engkau tidak datang tepat pada waktunya. Kemana ummat ini akan engkau bawa ?”. Mendengar cacian ini, Maulana Ilyas diam saja. Tidak menjawab sepatah katapun. Setelah acara makan pagi selesai, maka Maulana Ilyas pulang kembali ke New Delhi dengan menggunakan kendaraan kereta api.

Pada malam hari, di rumah orang Bupati tersebut, saat dia akan tidur, dipijit-pijitlah kepalanya oleh pembantu yang menyampaikan undangan ke Maulana Ilyas. Dia berkata: “Wahai tuan, sebenarnya bukan Maulana yang salah. Sayalah yang salah, karena menyampaikan kepada Maulana undangan pukul 09.00. Sayalah yang salah menyampaikan waktu undangan tersebut kepada Maulana. Dan Maulana ternyata datang tepat pada waktunya”. Mendengar tutur kata pembantunya tadi, Bupati itu gelisah sepanjang malam sampai pagi. Setelah pagi tiba, maka diajaknya seluruh undangan yang hadir pada acara makan pagi tersebut ke New Delhi, untuk menemui Maulana Ilyas. Sampai di New Delhi dan berjumpa dengan Maulana Ilyas, Bupati tadi minta ma’af kepada Maulana disaksikan oleh seluruh undangan yang pernah mendengarkan caci maki Bupati kepada Maulana Ilyas. Menyadari kesalahannya, Bupati tadi menangis dan menangis, sehingga Maulana Ilyas ikut menangis. Mengapa saling menangis ?. Karena Bupati telah menyadari kesalahannya dan Maulana juga merasa bahwa itu juga karena kesalahannya sendiri.

Sebagai da’i kita harus bersikap tawadhu’, dan selalu mengakui kesalahan sendiri serta merasa bahwa kesalahan orang lain juga karena kesalahan kita sendiri. Sebagai da’i harus berani mengakui : “Karena dosa yang saya perbuat, maka orang lain berbuat seperti itu. Bukan salah dia, tetapi salah saya”.

Sebagai da’i, kita harus selalu khusnudhon atau berbaik sangka kepada orang lain. Harus selalu kita tanamkan baik sangka ini, kepada orang lain. Sedangkan kepada diri sendiri, harus ditanamkan su’udhon atau buruk sangka. Jadi, baik sangka untuk orang lain dan buruk sangka untuk diri sendiri. Apabila kita dapat melakukan hal yang demikian, maka Allah SWT akan pilih kita sebagai da’i-Nya. Jangan salahkan mereka, tetapi salahkan diri sendiri. Kalau sifat-sifat semacam ini telah tertanam pada diri kita, maka akan dapat dicapai kesatuan hati. Sedangkan kalau kita selalu berburuk sangka kepada orang lain, maka hasilnya akan timbul perpecahan di mana-mana, dan kesatuan hati sulit dicapai.

Maulana Yusuf Rah.A berkata:  “Di dalam keburukan orang lain, carilah kebaikannya. Di dalam kebaikan itulah namanya akhlak. Sedangkan dalam kebaikan kita sendiri, kita cari keburukannya dan itulah yang namanya ikhlas”. Untuk itu, hendaknya kita selalu melihat kebaikan-kebaikan orang lain, sementara itu untuk diri pribadi harus kita lihat keburukan-keburukannya. Sehingga dengan cara ini, maka akan timbul sikap memuliakan dalam diri kita. Kemudian kita memuliakan sesama karkun atau orang lain, sehingga kesatuan hati dapat dicapai dan kerja akan naik, serta kawan kita akan mampu untuk membuat kerja dakwah ini. Apabila kita hanya menghendaki orang lain untuk memuliakan kita, untuk menghormati kita, maka yang akan terjadi adalah kerugian-kerugian. Bahkan akan timbul permusuhan terhadap diri kita. Dan syetan selalu mencoba untuk menggiring kita ke jalan yang sesat ini. Syetan akan membisiki kita: “Masya Allah kamu ini karkun lama. Kamu sudah berkali-kali keluar 40 hari. Kamu ini lebih mulia dari dia, dan dia itu tak ada apa-apanya bagi kamu”. Maka kita berusaha duduk di alas makan (suprah), untuk dilayani makanan. Inilah godaan syetan. Syetan masih terus menggoda dengan bisikannya: “Kamu ini orang lama, sudah sepantasnya menjadi ahli syuro. Lihat tuh, orang baru saja sudah ditunjuk menjadi syuro, padahal engkau orang lama yang lebih berhak menjadi syuro”. Syetan berusaha merusak hati kita, dengan berbagai tipu dayanya, sehingga kita merasa menjadi orang lama, orang yang sudah banyak berkorban dan sudah pantas diangkat menjadi syuro. Pada saat kita digoda syetan semacam ini, maka kita harus mengambil sikap tegas agar tidak tergoda dengan bujukan syetan dan mengatakan pada diri sendiri: “Karena ikhsan-Nya Allah saya dapat keluar di jalan Allah, padahal saya mempunyai banyak dosa-dosa di masa lalu. Karena kemurahan Allah, saya dapat keluar di jalan Allah, bukan karena kepandaian saya, padahal dosa-dosa yang telah kita buat banyak sekali”. Pikiran semacam ini harus kita tanamkan betul di hati kita. Sementara itu, kita harus mengatakan pula pada diri sendiri, bahwa pengorbanan-pengorbanan yang telah dibuat oleh orang lain, disebabkan Allah yang telah memberikan kasih sayang-Nya, dan Allah-lah yang memajukan serta memuliakan mereka. Dan kita do’akan semoga Allah lebih meningkatkan derajat mereka.

Keinginan diri kita agar dimuliakan oleh orang lain, dihormati oleh orang lain atau kawan yang lainnya, ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan keinginan untuk memiliki harta kekayaan. Harta ini akan habis, apabila kita korbankan atau kita buat untuk mujahadah, sehingga akan habis atau lenyap dari hati kita kebesaran benda-benda tersebut. Sedangkan kalau kita minta dimuliakan dan minta dihargai atau dihormati, ini tidak akan habis atau lenyap, meskipun kita sudah berkorban dan bermujahadah. Semoga Allah SWT menjaga kita, dari keinginan-keinginan buruk tersebut. Amien.

Untuk mengerjakan dakwah ini, kita harus merasa kecil, sehingga Allah SWT akan menjaga kita dan Allah Ta’ala akan menaikkan derajat kita, serta Allah akan memberikan kejayaan kepada kita.

Kerja ini, adalah kerja ijtimai. Untuk melestarikan agar kerja dengan cara ijtimai ini tetap berjalan, adalah suatu hal yang sangat penting sekali. Kerja ijtimai ini harus tetap kita lakukan, meskipun badan kita letih, harta kita habis, tetapi tetap saja kita harus mengusahakan agar kerja ini tetap dengan cara ijtimai. Agar supaya cara kerja ijtimai ini tetap dapat kita pertahankan, maka kita harus mempunyai tiga sifat. Pertama, harus dihindarkan prasangka buruk kepada orang lain. Kedua, jangan mencari aib orang lain. Ketiga, pada saat kita melihat aib orang lain, maka jangan dibicarakan kepada orang yang lainnya lagi. Apabila ketiga perkara ini dapat kita jaga dengan baik, maka Allah SWT akan pelihara kerja dengan cara ijtimai ini, dan kerja ini akan menjadi kerja yang lestari.
Dengan kerja yang penuh mubarak, kerja yang penuh berkah ini, maka kita harus lakukan dengan penuh mujahadah. Mujahadah adalah ruh dari kerja ini. Mujahadah adalah ruh daripada Islam. Mujahadah telah dihabiskan oleh musuh kita, sehingga Islam keluar dari diri kita. Apabila ummat ini tetap dalam kondisi mujahadah, maka Islam akan tersebar. Tetapi kalau musuh-musuh kita membawa kita dalam kondisi yang penuh kenyamanan, keenakan, banyak istirahat, maka Islam akan keluar dari kehidupan ummat ini, sehingga tidak ada ruh lagi pada ummat Islam. Dalam kerja yang besar ini, setiap saat kita harus siap untuk bermujahadah. Apabila kita siap bermujadah, maka kapan saja dan dalam keadaan bagaimanapun kita akan mudah mengerjakan usaha dakwah.

Apakah yang dimaksudkan dengan mujahadah ?. Mujahadah adalah sesuatu yang berlawanan dengan nafsu. Kita kerjakan seluruh perintah-perintah Allah SWT, dan caranya mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Itulah yang disebut mujahadah. Sekarang ini, kita tidak mujahadah lagi. Karena mujahadah itu sebenarnya ada empat perkara. Pertama, sesuatu yang berlawanan dengan nafsu kita. Kedua, menunaikan perintah Allah SWT dan kita sempurnakan perintahnya Allah. Ketiga, kita kerjakan sesuai dengan cara Rasulullah SAW. Keempat, ridho karena Allah, kita kerjakan usaha ini semata-mata karena Allah. Kalau kerja dakwah ini kita kerjakan dengan keempat masalah ini, maka inilah yang disebut mujahadah.

Pada suatu saat kita dimusyarahkan. Kita niat keluar 4 bulan. Hasil musyawarah, kita diputuskan pergi ke Jepang. Padahal, dalam hati kita menginginkan agar diputuskan untuk pergi ke India dan Pakistan. Ini berlawanan dengan nafsu. Apabila kita tekan nafsu kita, kemudian mengerjakan takazah agama tersebut pergi ke Jepang dengan empat perkara yang tersebut di atas, inilah yang disebut mujahadah. Pada saat itulah Allah akan memberikan keputusan-Nya untuk memberikan hidayah kepada kita, dan juga hidayah kepada orang-orang di negara yang kita datangi.

Dengan hasil musyawarah bahwa kita diputuskan ke negara lain, janganlah kita berburuk sangka kepada ahli syuro dengan pikiran: “jangan-jangan ada orang yang berbisik-bisik kepada ahli syuro, supaya saya dikirim ke negara lain yang bukan negara yang saya kehendaki”. Berfikirlah bahwa hasil musyawarah tersebut adalah keputusan Allah dan ini semua datang dari Allah SWT. Berfikirlah bahwa kita kerja ini semata-mata hanya mengharapkan ridho dari Allah, bukan karena syuro tetapi karena Allah . Dengan berfikir semacam ini, maka Allah Ta’ala akan memberikan hidayah kepada kita. Insya Allah.

Apabila kita keluar di jalan Allah, kemudian kita tahan hawa nafsu kita dengan mujahadah, maka Allah akan memuliakan kita. Misalnya, dalam perjalanan 3 Km, sebenarnya jarak ini dengan mudah kita lalui dengan menggunakan kendaraan dan akan cepat sampai ke tempat tujuan. Jarak tersebut kita tempuh dengan jalan kaki. Ini berlawanan dengan nafsu, karena harus melakukan kerja yang lebih berat. Meskipun demikian, kita kerjakan pekerjaan tersebut dengan jalan kaki, melawan hawa nafsu, inilah yang namanya mujahadah. Dengan mujahadah  semacam ini, Allah SWT akan membuka kepahaman kita tentang usaha dakwah. Sesuatu yang menjadi beban kita, kemudian kita dapat melawannya, itulah yang disebut mujahadah. Sedangkan apa yang telah kita kerjakan, kemudian kita berusaha untuk meningkatkannya lagi, itulah namanya pengorbanan.

Apabila kita meluangkan waktu tiga hari setiap bulan, kemudian jaulah setiap minggu, ini namanya bukan mujahadah. Tetapi, apabila kita meningkatkan apa yang telah kita kerjakan, itu namanya pengorbanan. Kemudian kita tingkatkan pengorbanan tersebut terus menerus, maka Allah SWT akan memberikan kepahaman kepada  kita terhadap usaha dakwah ini. Apabila kerja ini sudah menjadi kebiasaan atau sudah menjadi adat kita, ini namanya juga bukan pengorbanan dan bukan mujahadah. Karena itu tinggal menyempurnakan saja. Dan ini tidak akan menyebabkan sebab turunnya hidayah, sebab hal ini sudah rutin kita kerjakan dan sudah menjadi adat istiadat, sehingga maksud tujuan kita tidak tercapai. Misalnya, kita sudah putuskan bahwa setelah sholat Ashar akan dilakukan jaulah. Kemudian pada saat itu, kita kedatangan tamu  yaitu seorang paman atau sanak famili di rumah kita. Karena ada tamu, maka kita tinggalkan jaulah kita. Apabila ini kita lakukan untuk menghormati tamu tersebut dan meninggalkan jaulah, maka untuk selama-lamanya jaulah kita tidak akan mempunyai ruh. Tetapi, kalau kita katakan kepada tamu kita: “Tuan berbicaralah 3-4 menit, kami akan ada jaulah dan sebentar lagi saya akan pergi jaulah”. Kemudian kita minta anak-anak kita untuk melayani tamu tersebut, maka inilah yang disebut pengorbanan. Apabila kita lakukan semacam ini, kita tetap jaulah dan tidak terkesan atas kedatangan tamu tersebut, maka kita akan mendapatkan hakekat dari jaulah itu sendiri. Tetapi, apabila kita terkesan dengan tamu, kita layani tamu itu, duduk-duduk dengan tenang dengan tamu itu, kita tinggalkan jaulah kita, maka seumur hidup kita mengerjakan jaulah tidak akan mendapatkan hakekat dari jaulah tersebut.

Dalam kerja ini, yang penting adalah membuat pengorbanan. Bukan jaulah maksudnya, bukan 3 hari maksudnya, bukan 40 hari maksudnya, tetapi maksudnya adalah pengorbanan. Apabila pengorbanan telah terwujud, maka pengorbanan tersebut akan menjadi sebab turunnya hidayah bagi da’i yang bersangkutan. Bukan usaha-usaha lain yang dapat menurunkan hidayah, tetapi pengorbanan yang dapat menjadi sebab turunnya hidayah.

Misalnya, kita sudah menentukan waktu keluar 3 hari yaitu minggu ini, atau katakanlah minggu yang pertama. Tiba-tiba pada saat waktu yang sudah ditentukan, ibu kita sakit keras bahkan hampir mati. Kalau kita bawa dalam musyawarah, orang-orang akan mengusulkan : “Jangan kamu keluar minggu ini. Sebaiknya kamu keluar minggu depan saja. Kerja ini adalah kerja seumur hidup kita. Kapan lagi kamu akan berjumpa dengan ibumu ?”. Dalam kondisi semacam ini, kata Maulana Yusuf Rah.A, apabila kita tetap saja keluar di jalan Allah, maka dapat kita buktikan bahwa diri kita ini sebenarnya bukan milik siapa-siapa, tetapi milik Allah dan Rasul-Nya. Di sisi lain Beliau katakan, apabila kita menunggu ibu kita yang sedang sakit dan membatalkan keluar di jalan Allah, kalau Allah sudah takdirkan ibu itu akan mati, maka tetap akan mati meskipun kita jaga dan kita rawat dengan baik. Namun demikian, kalau kita tetap saja keluar di jalan Allah dengan meninggalkan ibu yang sedang sakit tersebut, kemudian ibu itu mati pada saat kita sedang keluar, maka pengorbanan ini dapat menjadikan sebab Allah SWT memberikan ampunan untuk ibu kita.

Inilah yang disebut sebagai pengorbanan. Sebagaimana Allah perintahkan kita untuk sholat fardhu lima kali sehari semalam. Allah dapat saja, memerintahkan kita untuk sholat hanya satu kali saja. Tetapi mengapa Allah perintahkan lima kali dalam sehari?. Hal ini dimaksudkan oleh Allah, agar kita melakukan pengorbanan. Pada saat kita dapat meninggalkan dunia kita, kemudian menuju kepada Allah melaksanakan perintah sholat, maka pengorbanan ini akan dapat menjadikan kita dimuliakan oleh Allah SWT. Dan Allah akan memberikan penghargaan kepada kita, atas pengorbanan yang kita lakukan itu. Oleh karena itu, dalam kehidupan 24 jam kita sehari semalam, harus kita tengok apakah ada peningkatan pengorbanan dalam rentang waktu tersebut ?. Kita juga mengharapkan agar kawan-kawan kita juga meningkatkan pengorbanan. Apabila kita tingkatkan pengorbanan-pengorbanan tersebut, maka Allah SWT akan memberikan hidayah ke seluruh alam.

Kita tahu ada tertib-tertib dalam usaha dakwah ini. Mengikuti tertib-tertib tersebut, adalah tindakan yang baik. Namun demikian, dengan mengikuti tertib-tertib itu memang agama akan ada pada diri kita, tetapi tidak menyebabkan tersebarnya agama ini. Dengan pengorbanan itulah, agama akan tersebar di seluruh dunia. Di samping kita harus mengikuti tertib-tertib, kita harus juga menyambut takazah-takazah (tugas/kerja agama) yang lain. Dengan mengikuti tertib dan menyambut setiap takazah, inilah yang disebut pengorbanan. Apabila pengorbanan terwujud, maka Allah SWT akan memberikan hidayah kepada manusia. Tertib adalah penting, karena dengan tertib itu kita telah mengislahkan diri kita. Untuk kepentingan pribadi, nisob dan lain sebagainya, perlu hendaknya menjaga tertib dengan baik. Namun pengorbanan harus diutamakan, karena inilah yang menyebabkan agama tersebar ke seluruh alam.

Untuk itulah, kerja ini adalah kerja yang berkesinambungan, kerja yang langgeng, kerja yang terus menerus. Kerja bukan hanya 1 hari, 3 hari, 40 hari, 4 bulan atau 1 tahun saja, tetapi kerja ini adalah untuk seumur hidup kita. Oleh karena itu, 40 hari atau 4 bulan ini, pada dasarnya hanya untuk belajar saja. Belajar untuk mendapatkan sifat kasih sayang, belajar untuk dakwah, belajar untuk melayani. Sedangkan maksud dan tujuannya adalah agar kerja ini, menjadi kerja kita seumur hidup.

Da’i ini diibaratkan seperti matahari. Matahari memberikan sinar dan bermanfaat untuk keperluan manusia di seluruh muka bumi. Apabila da’i mempunyai sifat seperti mataharti, maka dia dapat memberikan sinar dan menjadi sebab turunnya hidayah ke seluruh alam. Bagaimana sifat matahari ?. Pertama, matahari keluar tepat pada waktunya dan keluar dengan nur atau cahaya. Kedua, matahari keluar tidak terlambat, satu menitpun tidak terlambat, tidak kecepatan dan juga tidak lambat, selalu tepat waktu. Demikian pula da’i, keluar harus tepat pada waktunya, dan keluar dengan nur hidayah. Misalnya, seluruh pencuri kumpul, seluruh perampok kumpul dengan tujuan untuk mencegah terbitnya matahari, supaya mereka bisa berbuat kejahatan terus di malam hari, apakah mereka mampu menahan keluarnya matahari ?. Mereka tidak akan mampu untuk menahan terbitnya matahari. Demikian pula, apabila da’i tetap keluar pada waktunya, meskipun ada hambatan, ada rintangan, tetapi tetap saja da’i tersebut keluar di jalan Allah pada saatnya untuk keluar, dia tinggalkan seluruh permasalahan yang sedang dihadapinya, maka dengan pertolongan Allah, dengan kodrat Allah akan Allah selesaikan masalah-masalah yang dia hadapi, dan da’i tersebut dapat menjadi sebab tersebarnya hidayah di permukaan bumi, tanpa dapat dicegah oleh siapapun. Timbullah cahaya yang terang dan kegelapan akan sirna. Sepertinya halnya matahari, begitu terbit dia akan memancarkan sinarnya dan menerangi permukaan bumi, tanpa dapat dicegah. Dengan demikian, kalau da’i keluar di jalan Allah, maka dia dapat menerangi atau memberikan cahaya kepada orang lain.

Sifat kedua dari sifat matahari berikutnya adalah dia terus berjalan, tidak pernah berhenti walaupun hanya sejenak saja. Begitu pula, da’i harus keluar terus menerus, tidak pernah berhenti meskipun hanya sesaat. Pada saat kita telah memulai kerja, maka sampai matipun harus tetap kita pertahankan kerja dakwah tersebut. Jangan berhenti. Inilah da’i yang sebenarnya, mempunyai sifat seperti matahari, yang tak kunjung berhenti dari peredaran walaupun cuma sejenak saja. Apabila sifat ini sudah ada pada seorang da’i, maka pada saat da’i masih hidup agama juga hidup, dan pada saat da’i yang dimaksud meninggal dunia, maka agama juga masih tetap akan hidup. Untuk itu kerja dakwah ini ada dua macam. Yaitu pertama untuk diri kita sendiri, dengan amalan maqomi, dan yang kedua untuk orang di luar diri kita. Jadi kerja untuk diri sendiri, dan juga kerja untuk orang lain.

Sifat matahari yang ketiga, dia berputar menyinari permukaan bumi, tidak menginginkan apa-apa dari bumi tersebut. Demikian pula, seorang da’i harus terus berkerja, tanpa mengharapkan upah dari siapapun saja. Kita kerja agama ke sana ke mari, tetapi tidak mengharap apapun dan tidak minta upah dari siapapun. Kita langsung minta upah kepada Allah SWT. Jangan minta apapun dari siapapun, kecuali mengharap ridho dari Allah. Kita kerja dan kerja terus, hasilnya nanti baru akan dapat kita lihat di akhirat. Begitulah yang pernah dikerjakan oleh para sahabat Nabi.  Mengitari permukaan bumi ini, menyebarkan agama tanpa mengharap upah dari siapapun. Mereka tidak mengharapkan keuntungan dunia sedikitnya, yang diharapkan adalah keuntungan di akhirat. Kerjakan saja apa yang telah diperintahlan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kerja saja terus, dan Allah SWT akan menetapi janji yang telah diberikan kepada kita. Kita buat kerja, dan hasilnya baru kita petik di akhirat nanti. Apabila kita hanya menengok hasil-hasil di akhirat nanti, itulah yang dinamakan ikhlas. Oleh karena itu, kalau di hati kita tidak ada kebesaran akhirat, tidak rindu dengan kampung akhirat, maka syetan akan jerumuskan kita, syetan akan sesatkan kita di dunia, dan kita kerja dakwah ini semata-mata hanya mengharapkan keuntungan dunia saja.

Dalam mengerjakan dakwah ini, harus dengan sifat ikhlas. Caranya dengan membesarkan tentang akhirat dan mengecilkan dunia. Tidak menginginkan sesuatu apapun yang ada di dunia, kecuali akhirat, itu yang disebut ikhlas. Bagi orang yang ikhlas, dia tidak tergiur dengan gemerlapnya dunia, karena dia yakin akan mendapatkan yang lebih baik di akhirat nanti. Kita mengerjakan dakwah ini, tidak ada pamrih dari siapapun, semata-mata karena Allah. Pada saat kita dakwah, kemudian orang mau mendengarkan atau tidak mendengarkan, hal ini tidak menjadi masalah. Orang mau duduk atau tidak duduk di masjid mendengarkan bayan atau targhib, tidak ada masalah. Yang penting, kita ikhlas mengerjakan usaha ini. Tetapi, kalau tidak ikhlas, kita paksa orang untuk duduk tawajuh. Pada saat mereka tidak mau duduk, kita marah. Ini sebagai pertanda kita tidak ikhlas. Terserah mereka, yang penting kerja saja semata-mata mengharap ridho dari Allah. Apabila kita tidak ikhlas, maka kita tidak akan dapat mencapai suatu maqom atau kedudukan yang diterima oleh Allah SWT.

Apabila kita mengerjakan dengan ikhlas, maka kita akan mudah mengamalkan suatu amalan, dan Allah akan menepati janji-janjinya. Karena janji Allah adalah haq. Dicontohkan, apabila kita sholat dhuha. Dengan sholat dhuha, dikatakan kita akan mendapatkan keberkahan dalam rezeki kita. Janji Allah adalah benar. Kalau kita kerjakan sholat dhuha, maka rezeki kita akan berkah. Tetapi, kalau kita sholat dhuha semata-mata untuk mendapatkan keberkahan rezeki kita, maka hal ini namanya tidak ikhlas. Sedangkan kalau kita kerjakan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka Allah pasti akan menepati janjinya, dan rezeki kita menjadi berkah.

Untuk itu, sebelum mengerjakan suatu amalan, kita harus membenarkan  atau meluruskan niat kita. Demikian pula, setelah amalan tersebut kita kerjakan, kita harus tetap meluruskan atau membenarkan niat kita. Pada saat kita sedang mengerjakan amalan, kita juga harus membenarkan dan meluruskan niat kita. Tidak ada satu mufti-pun yang dapat memberikan fatwa tentang ikhlas. Kita sendiri yang dapat mengatakan, apakah kita itu ikhlas atau tidak. Untuk itu, kita harus betul-betul meluruskan niat kita dalam melaksanakan suatu amalan.

Kadang-kadang, pada awalnya kita ikhlas dan juga melakukan pengorbanan. Tetapi, setelah orang menghormati kita, orang melayani kita, maka syetan mulai menggoda dengan berbagai tipu dayanya, dengan maksud merusakkan niat. Syetan membisikkan ke hati, agar kita selalu ingin dilayani  dan ingin mendapatkan dunia. Kalau ini sudah terjadi, maka kerja-kerja yang sudah pernah kita buat akan rusak semuanya. Oleh karena itu, setiap saat kita mengerjakan usaha dakwah ini, harus disertai perasaan takut. Maksud dari usaha ini, adalah merubah kehidupan menuju ke arah yang diridhoi oleh Allah. Perubahan yang bagaimana ?. Yaitu, meningkatnya amal kita, meningkatnya iman kita, meningkatnya akhlak kita, meningkatnya muamalat kita, meningkatkan muasyarat kita, sehingga ada peningkatan terus, dan inilah yang dimaksud dengan usaha dakwah.

Jadi keluar 40 hari, 4 bulan ini, maksudnya adalah untuk merubah kehidupan kita. Apabila kita sudah keluar, tetapi kehidupan kita tidak berubah, ini artinya pertolongan Allah belum bersama kita. Keluar 40 hari atau 4 bulan ini bukan maksud hidup kita, tetapi perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik itulah maksud hidup kita. Untuk itu, kita harus sering instrospeksi terhadap diri kita, amalan selama 24 jam yang sudah dikerjakan, dan pada malam hari kita merenung apakah ada perubahan ke arah kebaikan atau tidak. Berapa amal kebajikan yang kita telah perbuat, dan berapa kekurangan-kekurangan yang belum dikerjakan. Ini harus selalu kita renungkan. Apabila sudah banyak amal kebajikan, maka kita harus bersyukur kepada Allah, sedangkan kalau banyak kekurangannya, maka kita harus minta ampun kepada Allah.

Sesudah kita keluar 3 hari, sesudah kita keluar 40 hari, lihatlah apakah ada perubahan dalam kehidupan kita ?. Apakah iman kita meningkat ?. Apakah amal kita meningkat ?. Apakah keyakinan kita meningkat?. Apakah akhlak kita meningkat ?. Apakah muamalat dan muasyarat kita meningkat ?. Apakah sifat ingin melayani kita meningkat ?. Apakah tawadhu’ kita meningkat ?. Kita tengok dalam diri kita sendiri. Apabila terjadi dalam perubahan kehidupan kita, maka akan terjadi perubahan di seluruh alam.

Keputusan Allah tidak kepada seluruh alam, tetapi keputusan Allah kepada pekerja agama itu sendiri. Apabila si pekerja agama tadi berubah, maka dengan kodrat-Nya Allah akan rubah seluruh alam ini. Bukan kita yang menyebarkan agama. Pemikiran bahwa kita yang menyebarkan agama, harus kita keluarkan dari hati kita. Dan kita masukkan pemikiran, bahwa yang menyebarkan agama adalah Allah SWT. Allah Ta’ala akan menyebarkan agama, apabila terjadi perubahan hidup dalam diri kita. Untuk itu, kita kerja agama ini dengan belajar. Sambil belajar, kita buat kerja. Jangan mempunyai pikiran, kita sebagai orang alim yang mengerjakan pekerjaan ini. Orang yang lebih tahu tentang usaha ini, itulah yang harus kita tanya. Kepada syuro, atau syuro di tempat kita, itulah tempat kita bertanya. Kemudian kita kerjakan dengan musyawarah, maka kita akan mendapatkan sifat islah. Dengan bekerja kita sambil bertanya, maka kita akan mendapatkan sifat islah.

Dengan musyawarah kita mengerjakan usaha ini, itu juga namanya pengorbanan. Dengan musyawarah, kita juga akan mendapat sifat ta’at. Apabila kita mengikuti musyawarah, dan musyawarah itu salah, maka Allah akan memberikan ma’af. Apabila kita tidak ikut keputusan musyawarah, kemudian terjadi kesalahan, maka Allah akan memberi azab dan tidak mema’afkan. Kalau ini terjadi, maka islah tidak akan kita dapatkan, dan syetan akan menduduki kita. Islah itu wajib, dan berdebat itu haram. Orang yang selalu berdebat, maka dia tidak akan mendapatkan sifat. Apabila da’i ada usaha untuk islah, maka Allah akan memberikan islah pertama kali padanya, dan orang lainpun akan mendapatkan islah juga.

Untuk mendapatkan islah, tidak hanya cukup dengan pengorbanan dan keletihan, tetapi juga harus dengan do’a kepada Allah SWT. Kita do’akan nama-nama kawan kita dengan menyebut namanya. Apabila kita mendo’akan kawan kita, maka malaikat akan mendo’akan kita. Kemungkinan do’a kita tidak diterima oleh Allah, tetapi do’a para malaikat pasti akan diterima oleh Allah. Maka kita harus jaga betul do’a ini. Jangan lupa dengan do’a dan jangan lalai. Do’a adalah senjata bagi orang mukmin. Dengan do’a, Allah akan senang kepada kita. Orang yang tidak mau berdo’a, dia akan mendapat celaan dari Allah. Karena sama saja dengan tidak ta’at kepada Allah. Untuk itu, kita harus selalu jaga do’a ini. Habis beramal kita berdo’a. Habis membaca Al Quran kita berdo’a. Habis sholat kita berdo’a. Habis jaulah kita berdo’a. Dan di akhir malam, pada saat orang lain tertidur pulas, kita berdo’a kepada Allah. Apabila kita  selalu jaga do’a, maka segala macam keburukan yang ada di hati kita, kedengkian, kebencian, dengan kodrat Allah akan dijauhkan semua keburukan tersebut. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita semua. Amien.

Sifat sabar, adalah sifat yang sangat penting. Seorang da’i harus mempunyai sifat yang sabar dan tahamul. Para sahabat RA, telah mempunyai sifat sabar ini. Apabila kita kerja dakwah dengan sabar dan tahamul, maka Allah akan hindarkan dari segala kerugian. Apabila kita kerja ini dengan tidak sabar, maka kita tidak akan dapat melakukan kerja dakwah ini. Ini adalah kerja-kerja para Nabi AS. Dalam kerja ini, kita akan mengalami kekurangan nikmat-nikmat, dan mendapatkan banyak kesusahan. Apabila kita kerja dengan sifat sabar dan tahamul, maka Allah akan hindarkan kita dari kerugian-kerugian dan Allah akan teguhkan kita dalam kerja ini.

Pada suatu hari, ada seorang Arab Badui datang ke Masjid Rasulullah SAW dan dia kencing dalam masjid. Para Sahabat marah dan berlari untuk menangkap orang Badui tersebut. Rasulullah SAW mengatakan kepada para sahabat : “Jangan kamu buat apa-apa padanya”. Setelah orang tadi selesai kencing, kemudian Rasulullah SAW datang kepada orang tadi dan mengatakan : “Ini adalah rumah Allah. Tempat ini untuk beribadah kepada Allah. Bukan untuk kencing dan sebagainya”. Kemudian Rasulullah SAW meminta sahabat untuk mengambil air, untuk membersihkan masjid itu. Melihat tindakan Rasulullah j tersebut, orang Arab Badui itu pulang ke kampungnya, dan berkeliling kampung  berdakwah dan mengumumkan: “Hai saudara-saudara saya telah datang ke seseorang yang tidak memarahi saya, tidak menghina saya, tidak mencaci saya. Dia adalah orang yang sangat baik, maka ikutilah perkataannya”. Dari peristiwa ini, apabila Rasulullah SAW tidak bersabar, para sahabat tidak bersabar, apakah akan datang kebaikan ?.
Selama 13 tahun, Rasulullah SAW di Mekkah memberikan pelajaran sabar kepada sahabat-sahabatnya. Dengan sifat sabar ini, maka akan terbina iman. Dengan sifat sabar, maka akan terbina akhlak. Dengan sifat sabar, kehidupan akan berubah. Dalam suatu perjalanan, Rasulullah SAW melihat Ammar RA dipanggang di bara api, dipegang oleh empat orang. Darah dan lemak-lemak Ammar yang menetes, telah dapat memadamkan bara api tersebut. Pada saat itu, dia berteriak: “Ya Rasulullah, kapan datangnya pertolongan Allah ?”. Maka Rasulullah SAW menjawab: “Kamu bersabar, dan kamu akan mendapatkan sorga”. Inilah pelajaran sabar. Dengan kesabaran inilah, maka akan terhindar dari kerugian-kerugian dalam kerja dakwah.

Demikian pula, kita kerja dakwah ini harus dengan perasaan syukur. Setiap langkah-langkah yang dikerjakan, kita harus bersyukur kepada Allah. Setelah mengerjakan amal, kita koreksi diri kita: “Ya Allah, saya tidak dapat menunaikan amal ini dengan haq sesuai dengan yang dikehendaki. Apabila ada kekurangan-kekurangannya, ya Allah ampunilah diri saya”. Da’i harus senantiasa bersyukur kepada Allah dalam situasi apapun. Dalam kesulitan, dalam kesusahan, harus selalu bersyukur. Setiap saat dan keadaan, harus selalu bersyukur. Apabila kita selalu bersyukur, maka Allah akan bukakan keuntungan dalam kerja ini. Apabila kita bersyukur, maka Allah akan berikan dua keuntungan yang besar. Pertama, amal itu akan diterima oleh Allah. Kedua, Allah akan berikan istiqomah dalam amalan itu. Untuk itu, setiap saat dan setiap keadaan, kita harus selalu bersyukur kapada Allah SWT. Dalam salah satu ayat, Allah berfirman yang artinya antara lain: “Apabila kalian bersyukur maka akan Aku tambah nikmat-Ku dan apabila tidak bersyukur maka akan datang azab-Ku”. Jadi kenikmatan dari Allah akan dicabut, dan azab Allah akan datang, kepada orang yang tidak bersyukur. Untuk itu, maka kita niatkan untuk berdakwah dengan sifat-sifat tersebut di atas. Insya Allah. Kemudian kalau ada kekurangan-kekurangan, maka kita harus bersihkan hati kita.

Apabila karkun tidak bersatu, bagaimana akan dapat menyatukan seluruh dunia. Untuk itu, yang pertama kita harus belajar kasih dan sayang. Apabila sifat cinta dan kasih sayang tidak ada, maka pertolongan Allah tidak akan bersama kita. Apabila tidak ada rasa cinta, maka tidak ada kemampuan untuk membuat kerja. Apabila tidak bersatu, maka kita tidak akan dapat mempelajari kerja ini dan kerja ini tidak akan terbuka untuk kita. Apabila tidak dengan cinta dan kasih sayang, maka kita tidak akan dapat bermusyawarah. Untuk itu harus ada rasa cinta satu sama lainnya. Kita harus saling melayani kepada setiap orang. Kita harus hargai setiap orang. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq kepada kita semua. Amien.